Minggu, 09 Oktober 2011

Serena Menangis

Serena menangis.
Lama sudah ia tak menangis. Tangisnya kali ini terasa lebih pilu dari lagu-lagu yang mengisahkan tentang perpisahan. Lebih perih dari luka yang baru terkoyak dan ditetesi oleh perasan lemon. Bahkan lebih menyayat dari cerita tentang kematian. Sakit yang teramat sangat sepertinya mendera hati dan jiwa perempuan ini.
Dengan mata sembab, pucuk hidung memerah dan pipi yang masih menyisakan garis airmata, Serena berusaha untuk bangkit dari keterpurukannya. Berusaha membuang semua kenangan indah yang  tak ingin di kenang Serena dalam hidupnya kelak. Saat yang berat yang harus ia jalani demi menyelamatkan hatinya yang telah retak , kini pecah berkeping-keping dan tak mampu ia susun kembali. Terlalu berat baginya saat ini untuk menata serpihan hati yang berserak. Serena butuh waktu yang panjang. Meski ia tak berputus asa, berharap suatu hari nanti saat yang menghancurkan hatinya ini hanya tinggal sekeping kenangan.
Saat ini Serena sendiri, menatap layar monitor Laptopnya. Membaca satu persatu email dari Restu. Tak ada lagi Restu disisinya, juga di hatinya. Kehampaan yang tak pernah dibayangkannya selama ini menimbulkan kebimbangan di hati Serena. Tak akan ada lagi dering telepon di jam 12 malam tepat menghampiri ponselnya. Juga tak akan ada lagi pesan singkat di email yang selalu bernada manis, seperti yang saat ini sedang di bacanya kembali. Perlahan Serena mulai menghapus satu persatu, berharap yang dilakukannya mampu menghapus bayangan lelaki itu dari hati dan pikirannya.
Tak ada yang disalahkan dalam hubungan ini, Serena membatin perih. Karena terlalu rumit buat mereka berdua. Awal yang salah, di waktu yang salah. Sebenarnya Serena dan Restu sangat menyadari hal ini. Menyadari mereka mengawali sesuatu yang akhirnya akan menyakiti. meski tak tahu siapa yang lebih tersakiti. Dan akhirnya Serena lah yang lebih tersakiti. Menelan semua kepahitan dan kegetiran atas segala yang sudah ia lakukan.
Hari ini Restu menikah.
Pilihannya jatuh pada seorang gadis yang memang sepadan dengannya. Serena tahu, Restu pun tahu, bahwa saat ini akan tiba. Saat Restu bertemu dengan gadis yang cocok, atau sebaliknya, Serena menemukan lelaki yang menginginkannya. Mereka menyepakati soal ini dalam diam. Menunggu saat siapa yang akan lebih dulu melangkah, pergi meninggalkan yang lain. Seperti layaknya pertandingan, Serena dan Restu menanti dengan hati galau siapa yang akan menjadi pendahulu. Dan hari ini, Restulah sang pendahulu itu. Harusnya Serena tak perlu terluka, tak perlu menangis. Bergejolak batinnya berusaha mencari jawaban atas semua isaknya. Tapi tak ada jawaban, selain rasa perih dan sepi yang semakin mendera.
Setahun Serena mengenal Restu. Perkenalan yang diawali dengan ketidaksengajaan, ternyata berlanjut sampai sejauh ini. Serena tak pernah menyangka, komunikasi yang mereka bangun mampu menimbulkan perasaan yang sudah cukup lama tak menghampiri hatinya.
Serena tak berani berhayal tentang kelanjutan hubungan mereka kelak. Restu pun begitu, sangat menyadari apa yang sebenarnya akan terjadi dikemudian hari. Namun seakan tak mampu mengawal lajunya hasrat, semakin lama Serena dan Restu semakin terhanyut. Meski hanya dua kali bertemu, karena jauhnya jarak antara mereka berdua tak menjadi halangan berarti.Tanpa disadrari Serena dan Restu menciptakan pelekat atas hubungan mereka yang tanpa arah. Setiap malam, tepat di jam 12 Restu selalu menghubungi Serena. Sekedar menyapa untuk kemudian menghantarkan Serena kealam mimpi. Biasanya Restu suka membacakan tulisan-tulisannya, tak jarang pula Restu menyanyikan lagu penghantar tidur Serena. Memeluk Serena dalam hayal, itu selalu dilakukan Restu. Buaian yang indah, dan Serena tak yakin mampu melewati malam-malam tanpa Restu dimulai dari hari ini.
Lamunan Serena terus mengembara. Ingatannya melayang, jatuh pada saat pertemuan kedua dan terakhirnya dengan Restu. Sebab tak akan ada lagi pertemuan sejak saat itu. Serena masih ingat, pertemuan itu menjadi lebih istimewa dibanding pertemuan pertama mereka. Saat itu, untuk pertama kalinya Restu memeluknya dalam nyata, bukan hanya dalam hayal pengantar tidur seperti yang selama ini mereka lakukan. Pelukan hangat Restu tak bisa hilang dari pikiran Serena. Tak banyak kenangan nyata dalam hubungan mereka. Sedikit namun cukup membuat Serena mampu merekam dengan sangat baik semua tentang Restu . Ingatan yang mungkin akan menjadi teman tidur Serena, atau mungkin pula menjadi teman setia yang selalu berjalan bersama dalam hidupnya kelak. Serena tak tahu, benar-benar tak tahu. Biarlah hidupnya kembali berjalan seperti saat sebelum bertemu Restu. Selalu bergelung dengan sepi, bersahabat dengan bisikan hati dan tersenyum saat kepahitan melanda hatinya. Perempuan dengan hati yang penuh gurat luka ini menatap photo Restu dan dirinya, untuk yang terakhir kali. tersenyum dalam pelukan Restu yang hangat. Kehangatan yang akan menyelimuti tidurnya di malam-malam panjang kelak.

Senin, 03 Oktober 2011

Paris, 30 Juni 2011




Ini negara pertama diluar Jerman yang akan kami kunjungi. Dengan kereta ekspress dari Berlin Hbf kami bertolak pada pukul 13.15 siang waktu setempat. Perjalalanan kali ini cukup panjang, kira-kira 9 jam lagi baru sampai di Paris. Diperkirakan kami akan tiba pada pukul 10 malam waktu Paris. Inilah baiknya pelayanan transportasi disini. Ada beberapa negara eropa yang menjalin kerjasama menyambug jalur2 kereta mereka. Jadi tak mesti naik pesawat, naik kereta pun kita bisa sampai ke negara2 eropa lainnya, sepanjang negara tersebut masih memberlakukan Visa yang sama (Schengen). Soal tiket kereta saya kurang begitu paham. Sedikit yang saya tahu, karena kami turis diharuskan membeli tiket kelas VIP. Tiket tersebut bisa di pergunakan pada (maksimal) 6 negara yang akan dikunjungi, yang telah kita pilih sewaktu membeli tket tersebut. Jadi tak perlu berulang-ulang membeli tiket, cukup satu kali untuk seluruh perjalanan. Tak merepotkan dan sangat efisien ya.
Kereta yang kami tumpangi ini benar-benar pantas disebut 'kereta ekspress'. Disetiap pintu pemisah antar gerbong, tak sengaja saya melihat display kecil yang memantau kecepatan laju kereta. Saat itu saya baru menyadari, kereta yang kami tumpangi melaju degan kecepatan 300km/h, tanpa merasakan goncangan sedikitpun bagi penumpang didalamnya. Benar-benar nyaman dengan design layaknya pesawat terbang.



Paris, I'm in Love... salah satu judul film romantis Indonesia. Judulnya saja sudah cukup buat pembaca berhayal. Dan saya, yang saat ini sedang menuju tempat 'romantis' versi film tersebut, bertanya dalam hati, benarkah Paris tempat yang romantis? Kalau ya, seberapa romantis kah? Apa yang membuatnya menjadi romantis dan berbagai pertanyaan berkelebat dalam pkiran saya. Sebegitu hebatkah tempat ini, sehingga sering sekali kita mendengar cerita2 bernuansa cinta disini. Belum lagi banyaknya pasangan yang bercita-cita berbulan madu ke Paris, wah benar2 semakin membuat saya penasaran dan ingin cepat sampai.
Sekitar pukul 10 malam (walaupun hari msh terang) kami tiba d Paris. Sedikit kecewa, stasiun kereta tak sebersih di Jerman. Banyak sampah berserakan. Keluar stasiun angin lumayan kencang menyambut kedatangan kami. Cuaca di Paris nampaknya lebih bersahabat. Walaupun berangin tapi tak menunjukkan tanda-tanda akan turun hujan. Kami berjalan mencari hotel yang sudah di pesan jauh-jauh hari sebelumnya. Sedikit informasi, di eropa kebanyakan hotel tidak menerima tamu yang belum mem-booking kamar. Setelah berkeliling (karena sulit menemukan plang nama jalan), akhirnya kami menemukan hotel tempat kami menginap. Ternyata letaknya tak begitu jauh dari stasiun. Selesai mandi, sholat dan makan, kami keluar hotel berjalan-jalan disekitar sambil mencari minuman hangat. Banyak cafe disekitar sini, tapi karena hari mulai larut, mereka pun bersiap untuk tutup. Ada sesuatu yang sedikit mengganggu pikiran. Paris terkenal sebagai kota wisata negara Perancis, seperti Bali juga di negara kita. Tapi perbedaan kehidupan malamnya sangat jauh berbeda. Disini jam 12 malam sudah mulai sepi, sedang di Bali justru baru memulai aktifitas. Alangkah sedihnya saya, budaya ngafe dan gemerlap malam kan milik mereka, kenapa justru negara kita yang kelihatan lebih 'mem-budayakan' ini ya. Lelah berputar sekitar kota, kami kembali ke hotel untuk beristirahat. Rencana besok kami mulai tur ketempat-tempat yang terkenal di Paris. Saya berharap semoga banyak manfaat yang didapat esok hari.
Pukul 07.00 pagi kami keluar hotel setelah sarapan. Di sebelah hotel kami menemukan toko kue khas india. Kue2 cantik beraneka warna ini menggugah selera kami. bentuknya macam-macam, sepintas seperti getuk, kue khas indonesia. Tapi rasa kue ini sangat manis, karena bahan utama terbuat dari gula. Setelah memilih beberapa macam kue, yang dipilih berdasarkan bentuk dan warna yang menarik selera, kami pun melanjutkan perjalanan.




Tujuan pertama kami, Museum Louvre. Museum yang menyimpan koleksi lukisan-lukisan terkenal dunia. lebih dari 10.000 lukisan di simpan disini, termasuk lukisan fenomenal Leonardo da Vinci : 'Mona Lisa' dengan senyum misteriusnya. Gedung museum ini dulunya bekas istana Raja Perancis, dengan arsitektur bergaya abad Renaissance. Museum yang dibuka sejak tahun 1793  ini termasuk museum terbesar dunia.

Di halaman gedung yang sangat luas, ada sebuah piramida kaca yang unik. Le Pyramida, begitu di sebut dalam bahasa Perancis. Piramida prisma kaca ini di buat oleh I.M Pei, seorang arsitek berkebangsaan Cina. Dibangun dengan tinggi 20m dan sisi 30m dan terbuat dari hampir 800 keping kaca berbentuk segitiga yang dirakit pada kerangka almunium membentuk prisma. Sungguh sebuah hasil karya teknis yang luar biasa. Pintu masuk museum berada tepat di bawah piramida ini. Pagi itu jam masih menunjukkan pukul 08.00 pagi, namun antrian pengunjung yang ingin masuk ke museum sudah cukup panjang.Ada dua jalur masuk, jalur pertama antrian untuk pengunjung yang hanya ingin masuk sampai Lobby gedung museum. Jalur kedua bagi pengunjung yang ingin masuk ke dalam museum dan membayar sebesar 10 Euro. Saya dan seorang teman memilih jalur kedua karena ingin melihat lukisan-lukisan serta berbagai macam hasil seni dunia, sedangkan tema-teman yang lain memilih menunggu sambil berbelanja di Lobby gedung museum. Cukup menarik, sangatlah pandai pihak pengelola menarik pengunjung yang tak ingin masuk ke museum namun tak pula bosan menunggu dengan membuka berbagai macam toko layaknya sebuah Mall. Jadi tak ada kata bosan selama menunggu bukan?.

Masuk ke museum yang sangat terkenal di dunia ini ada sedikit rasa istimewa di hati. Istimewa dalam artian bisa melihat hasil karya seni kelas dunia, yang tentunya mempunyai nilai seni yang tinggi pula. Gedung yang sangat luas dengan lebih dari 60.000 meter persegi dengan ruang pameran yang dibagi berdasarkan janis barang seni yang dipamerkan, cukup membuat kaki pengunjung lelah mengelilinginya. Setiap pengunjung dibekali peta museum. Karena luasnya, kami memutuskan hanya mengunjungi beberapa ruang yang terkenal saja. Seperti ruang Napoleon dan tentunya, mencari si Mona Lisa!

Kami lebih dulu menemukan Ruang Napoleon Bonaparte III. Tiap ruang di desain sesuai pada masanya terdahulu. Ada ruag pertemuan, ruang keluarga, ruang makan, ruang kerja dan juga bar tempat berkumpul bersama para bangsawan. Kebiasaan berkumpul menyelenggaraan pesta jelas terlihat dari luasnya ruangan pertemuan. Secara keseluruhan tatanan ruang ini menggambarkan tentang kehidupan sang Raja.


Kebiasaan, kemewahan serta kekayaan yang luar biasa tergambar jelas disini. Perpaduan warna emas dan merah sangat mendominasi. Dinding dan langit-langit dipenuhi dengan lukisan indah, sedangkan perabotan terbuat dari kayu kualitas nomor satu. Begitu pula kain pembalut sofa, terbuat dari beludru berwarna merah menandakan cita rasa sang Raja soal kemewahan serasi dengan gorden pada jendela dan pembatas ruang yang juga berwarna senada. Semakin menambah sempurna kemewahan yang ingin ditunjukkan oleh sang Raja dengan menambahkan lampu-lampu kristal berukuran besar yang bertengger di langit-langit gedung memancarkan sinar keemasan. Benar-benar mewakili jati diri sang Raja.






Puas berkeliling, kami menuju ruang-ruang pameran lukisan peukis terkenal lainnya. Lukisan berbagai ukuran, besar dan kecil di pajang memenuhi dinding museum. Pada umumnya lukisan menceritakan tentang kejayaan dan kekayaan raja-raja dan tentang kisah-kisah perjalanan penyebaran agama kristen pada masa itu.
Jika pelukisnya terkenal, biasanya penjagaanpun diperketat. Penjaga bermuka serius yang awas mata berkeliling di sekitar ruang.


Namun tak perlu takut bertanya, sebab ketika kita bertanya mereka akan langsung merespon dengan sangat baik. Pelayanan prima kelas dunia. Semua lukisan yang dipamerkan dilukis dengan sangat indah, namun saya tak yakin apakah lukisan-lukisan ini masih benar-benar asli atau replikanya saja. Tak menjadi soal, karena saya bukan kolektor.


Kami benar-benar kesulitan
mencari lukisan Mona Lisa. Berpuluh ruangan dan ratusan lukisan sudah kami lewati, namun yang dicari tak kunjung bertemu. Sedikit penasaran dalam hati saya bertanya,  kenapa sulit ya? Padahal ini kan termasuk masterpiece disini, seharusnya mudah untuk ditemukan. Tapi sudah hampir 1/2 jam kami mencari belum juga bertemu. Sewatu melihat peta, kami sudah berada pada blok yang tepat.
Tak menyerah, kami kembali menelusuri jalur sesuai pentunjuk peta. Kali ini kami berhasil. Disatu ruangan yang agak menjorok, ramai sekali orang berkerumun. Sewatu kami dekati, saya langsung tersenyum. Bukan senyum kagum, namun lebih tepat 'tersenyum lucu' menahan tawa. Ternyata lukisan yang dikerumuni banyak orang itu lukisan yang kami cari. Dan yang membuat saya tersenyum, ternyata lukisan itu sangat kecil! Pantas saja tak
kelihatan, kami membayangkan lukisan ini dalam ukuran besar seperti kebanyakan lukisan lainnya. Sejujurnya saya sedikit heran, mungkin karena saya bukan kurator (peneliti barang seni) yang mengerti nilai seni pada lukisan ini, jadi saya tak merasakan keindahan ataupun keunikannya.
Yang saya rasakan hanyalah fenomena kemashyuran cerita mulut ke mulut soal 'senyuman penuh misteri' Lisa Gherardini, istri dari Francesco del Giocondo yang di lukis oleh Leonardo Da Vinci dengan berbagai gosip yang menyertainya. Satu pelajaran yang bisa saya simpulkan, apapun bentuk seni itu, yang terpenting adalah kita harus menghargai, bagaimanapun bentuk dan siapapun penciptanya.

Selesai dengan Museum Louvre, kami bergerak menuju Notre Dame (katedral Notre Dame). Katedral kuno yang masih melakukan kegiatan Misa ini sangat ramai dikunjungi wisatawan, baik yang bermaksud hanya untuk melihat-lihat ataupun yang ingin mengikuti kegiatan rohani yang dilaksanakan katerdral tersebut. Saat kami tiba saja sudah cukup panjang antrian pengunjung yang ingin mengikuti acara Misa. Bangunan dengan arsitektur Gothic ini masih sangat baik walaupun dibangun pada abad 12 Paris.

Dihalaman luas katedral banyak sekali burung dara berkeliaran. Saat itulah saya baru menyadari sering melihat foto orang bersama burung dara yang jinak, ternyata disnilah  tempatnya. Tak mau me- lewatkan kesempatan, setelah dipancing dengan remah-remah roti agar mau  mendekat, kami pun langsung beraksi bersama burung-burung cantik yang ramah ini.


Setelah Notre Dame, kami kembali melanjutkan aksi keliling kota Paris. Tujuan selanjutya, Menara Eiffel. Karena kami ingin melihat Eiffel diwaktu siang dan juga malam hari, terpaksa kami harus datang 2 kali. Siang hari kami ingin melihat menara ini dengan jelas, dan malamnya ingin pula melihat lampu-lampu menara yang menyala. Semua setuju dengan rencana ini.                                                                               

Menara Eiffel diambil dari nama perancangnya, Gustave Eiffel yang selesai dibangun pada tahun 1889. Menara yang dibangun menyambut acara Pameran Dunia merayakan seabad Revolusi Perancis ini merupakan bangunan tertinggi di dunia pada saat itu. Berdiri di bawah menara ini serasa diri menjadi semut di kaki gajah. Menara yang tinggi dengan kaki-kaki yang kokoh membuatnya nampak semakin gagah. Rangkaian besi padu yang disusun bersilangan menambah keunikan menara. Inilah Eiffel disiang hari, yang dibangun di tepi sungai Seine menambah keindahan tersendiri, dan kami masih penasaran bagaimana penampilannya di malam hari.
Penat berjalan, kami mencari kedai minum untuk istirahat sejenak. Cukup jauh tempat kami menemukan cafe dari menara. unik sekali, kami harus berjalan lurus, kemudian naik tangga menuju sebuah lapangan . Sepintas kami mengira di lapangan itulah letak cafe, ternyata dibalik lapangan itu ada jalan raya yang ramai. Disinilah tempat melihat menara Eiffel dari kejauhan. Benar-benar bagus dan indah.
Malam nanti
rencananya kami akan melihat Eiffel dari tempat ini.
Akhirnya kami memilih salah satu dari sekian banyak cafe yang ada di sepanjang jalan. Cafe cantik dengan payung dan kursi berwarna merah sangat kontras dengan cuaca yang terik siang ini. tak ada rencana makan karena kami sudah mengisi perut dengan bekal yang di bawa saat kami kembali ke hotel untuk shalat Dzuhur.


                             


Sambil menunggu malam, kami memutuskan untuk menuju Champs-Elysees, salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi, khususnya bagi yang ingin berbelanja. Komplek termahal di dunia setelah Fifth Avenue di New York ini banyak berdiri rumah-rumah mewah dengan ukuran besar bergaya kastil.


Taman ditepi jalan, yang dibuat khusus bagi pejalan kaki juga sangat asri dan teduh. Banyak pula bangku2 taman yang disediakan bagi pengunjung untuk rehat sejenak sebelum melanjutkan berjalan kaki.


Setelah cukup panjang berjalan kaki, sampailah kami di komplek pertokoan yang terkenal di dunia, Champ-Elysees. Berbagai toko dan butik kelas atas, seperti Walt Disney's, Louis Vuitton, Channel, Zarra, Cartier, dan masih banyak lagi ada disini. Senang sekali rasanya bisa melihat langsung hasil karya perancang fashion kelas dunia. Jalanan sepanjang 2 Kilometer ini sangat ramai pengunjung. Namun rasanya tak penat menelusuri 'jalan terindah didunia', (demikian julukannya), sebab banyak hal baru yang kami temukan disekitarnya. 


Tanpa terasa kami sampai di ujung jalan, tempat berdiri dengan gagahnya Arc de Triomphe (Gapura Kemenangan), yang terletak di barat Champs-Elysees. Gapura ini dibangun atas perintah Napoleon Bonaparte sebagai bentuk penghargaan kepada tentara kebesarannya. Beberapa Selama di beberapa wilayah negara eropa, sering saya menemukan gapura-gapura. Setiap gapura yang dibangun sebagai tanda kemenangan ataupun kemakmuran raja yang memerintah pada saat itu. Bangunannya pun tak tanggung-tanggung, indah dan kokoh.

Tak terasa hari mulai malam. Lampu-lampu sepanjang boulevard Champs-Elysees mulai dinyalakan. Mungkin inilah penyebabnya sehingga ia dijuluki sebagai 'jalan terindah di dunia'. Ratusan sinar lampu jenis mercuri yang memancarkan warna ke emasan memang menambah romantis suasana disini. Tapi kami tak bisa berlama-lama, karena ingin pula melihat Eiffel di waktu malam. Bergegas kami kembali menuju menara tersebut. Menurut informasi yang kami terima, pada saat-saat tertentu ada lampu sorot yang disertai ribuan bahkan mungkin jutaan lampu-lampu kecil yang dinyalakan secara bersamaan. Moment inilah yang ingin kami lihat. Tetapi karena tak tahu kapan saat itu tiba, dan tak mau ambil resiko ketinggalan moment tersebut, maka kamipun segera berangkat kembali ke menara Eiffel.



Dikejauhan sudah terlihat Eiffel dengan penampilan barunya. Kami memilih untuk melihat Eiffel dari kejauhan, agar cahaya lampu terlihat dengan sempurna. Tempat khusus untuk melihat Eiffel di malam hari ini ternyata sudah ramai di padati pengunjung dengan tujuan yang sama tentunya. Lampu di badan menara sudah menyala. Dari sini terlihat jelas, sinar yang (lagi-lagi) keemasan melekat di seluruh menara, membingkai  bentuknya dengan jelas.

Saat asyik mengambil beberapa foto, tiba2 lampu-lampu sorot yang berada tepat di puncak menara menyala, disertai pula dengan lampu2 kecil berkelap kelip menambah cantiknya penampilan si Eiffel di malam ini. Orang-orang disekitar bersorak gembira, mungkin merasa beruntung bisa melihat moment tersebut yang berlanjut hanya dalam hitungan menit saja. Eiffel bak putri cantik jelita yang berdiri tegak di angkasa, dengan gaun gemerlap bertabur cahaya dan mahkota bersinar terang menyorot ke segala penjuru kota ini. Seakan ia menyapa seluruh pengunjung, memamerkan kecantikannya. Saya  pribadi juga merasa Eiffel jauh lebih cantik di malam hari. Kesan anggun dan sedikit angkuh menjadikannya semakin spesial dimata kami. Tak menyesal rasanya, walaupun badan sudah sangat penat seharian berkeliling dan kembali lagi ke sini. Terbayar impas dengan keindahan menara tersebut.
Perjalanan hari ini terasa menyenangkan. Cukup banyak tempat wisata di Paris yang kami kunjungi. Pagi esok kami akan bertolak meninggalkan kota ini, menuju Belanda. Jika memungkinkan kami berencana mampir sebentar di Brussell, Belgia.
Perjalanan yang cukup panjang, dan tentunya kami harus istirahat agar besok tak ada kendala masalah stamina. Sedikit catatan, wisata di Eropa banyak dilalui dengan berjalan kaki karena transportasi umum yang ada hanya kereta, bus  dan taksi. Khusus untuk taksi, biasanya mereka tak melayani rute2 pendek. Sedang kereta dan bus, tak semuanya memiliki stasiun yang dekat  dengan tempat-tempat wisata yang ingin di kunjungi. Pantas saja sering kita melihat wisatawan asing yang datang ke negara kita terbiasa berjalan kaki. Tak seperti kita yang manja, jika malas ke stasiun bus, dari depan rumahpun ada oplet dan  beca yang bisa membawa sampai tujuan.
Sebelum kembali ke hotel, kami mampir sebentar di toko membeli roti untuk sarapan esok hari. Soal makan, karena sudah sangat paham sulitnya mencari kedai makanan halal, kami membawa bekal dari Berlin. Jadi sehari ini perut kami masih bisa di merasakan nikmatnya nasi. Semoga besok kami bisa menikmati perjalanan berikutnya.



*Thanks to : Our Guide, dr. Riska Mayasari Srg
pemandu terbaik yang mengerti isi kantong rombongan, hahaha....

Minggu, 11 September 2011

Quedlinburg, 26 Juni 2011


Suka wisata ke kota tua? Jika ya, Quedlinburg salah satu kota tua terbaik di Jerman. Dari Berlin Hbf kami berangkat pukul 08.11 wkt Jerman. Pagi ini cuaca lumayan cerah, walaupun tak berharap banyak akan terus bertahan seperti ini sampai sore. Pengalaman yang sudah-sudah mengajarkan kami untuk bersiap, bahwa cuaca bisa berubah kapan saja.

Butuh waktu sekitar 3 jam untuk sampai di Quedlinburg. Pukul 10.00 kami sampai di Magdeburg untuk transit kereta berikutnya pukul 10.10, kami harus menunggu 10 menit lagi. Tunggu punya tunggu, kereta yang dinantikan tak kunjung datang. Kami bertanya-tanya, ada apa gerangan? Hal yang sangat jarang terjadi ini membuat kami tak nyaman. Dalam hati saya tersenyum, merasa mulai sombong. Biasanya jam karet bukan hal yang aneh buat kita, tp baru seminggu di negara orang sudah pandai menggerutu soal ini. Jadi ingat pesan adik yang selalu mengingatkan untuk siap mental jika kembali ke tanah air nanti.
Hasil tanya sana sini, kami mendapat informasi penyebab keterlambatan kereta menuju Quedlinburg. Ternyata para petugas kereta sedang ber-demonstrasi! Waaah... klu begini sih serasa di Indonesia, hommy..! :) Akhirnya kami putuskan untuk naik kereta yang berhenti di 1 stasiun sebelum Quedlinburg, kemudian melanjutkan rute berikutnya dengan menumpang bus. Namun hal ini belum bisa dipastikan. Bila tak ada bus, kemungkinan kami harus berjalan kaki sampai ke tujuan. Tak ada pilihan lain, kami pun terpaksa mengambil rute ini.

Alhamdulillah yang kami khawatirkan tidak terjadi. Akhirnya kami sampai di stasiun kereta Quedlinburg. Lengang sekali kota ini. Saya sempat teringat dengan film-film horor yang sering saya tonton. Quedlinburg benar-benar kota tua penuh nuansa misteri. Di sekitar stasiun ini banyak sekali bangunan kosong dan terbengkalai walaupun secara fisik masih sangat layak huni. Setelah berjalan menuju tengah kota, akhirnya kami menemukan daerah wisata kota tua yang cukup terkenal di Jerman bahkan di dunia (lihat di Google). Rumah-rumahnya benar2 tua, yang kebanyakan dibangun pada tahun 1600an. Kalau melihat bentuk bangunan disini, sepertinya Quedlinburg termasuk salah satu kota dengan penduduk yang berekonomi mapan pada masa-masa itu. Coba bayangkan, tahun 1660 mereka sudah memiliki rumah sebagus ini. Tentu butuh biaya besar untuk bisa membangunnya. Hampir di seluruh kota rumah penduduk sama bagusnya. Sebagian besar bangunan tersebut menggunakan kayu dengan kualitas sangat baik hingga sampai sekarang masih bisa berdiri kokoh. Sakin penasarannya saya sampai mengetok-ngetok kayu2 tersebut, Keras seperti tembok. begitu mendengar bunyi 'tok' barulah saya benar2 yakin kalau ini memang benar2 kayu. Terbersit  pula kecurigaan dalam hati saya, jangan-jangan ini kayu dari negeri kita, hahaha....!! Kejauhan ya. 

Jalan di sekitar komplek rumah-rumah tua ini bukanlah jalanan aspal. Cukup menarik perhatian saya karena ada keunikan disini. Susunan batu-batu bersegi tak sama disusun dengan rapi sepanjang jalan yang berliku mengikuti susunan rumah-rumah penduduk.  Sepintas terlihat seperti konblok. Mungkin ini juga masih peninggalan jaman dahulu. Lorong-lorong yang indah serta bangunan tua dengan aneka warna kayu merupakan kombinasi yang sangat spesial, membuat saya berhayal tentang bagaimana kehidupan mereka di masa lampau.
Mengelilingi kota tua ini sangat mengasyikkan. Suasananya pun jauh berbeda dengan saat pertama kami sampai di daerah dekat stasiun kereta tadi. Disini ramai pengunjung, namun kami jarang menemui penduduk setempat. Kami bisa memastikan yang ramai ini pastilah turis, seperti kami juga. Karena di akhir minggu seperti ini penduduk setempat justru pergi ke luar kota. Biasanya mereka ke kota2 besar, seperti Berlin untuk menikmati suasana kota atau sekedar berbelanja.
Rumah2 mereka sangat indah. Khas eropa tua yang hangat. Ditiap jendela kaca dan pintu di pasang berbagai macam hiasan cantik dan unik yang bisa dipandang dari luar. Berbagai tanaman hias pun bertengger di jendela2 rumah. Bunga beraneka warna yang mencolok menambah keindahan tatanan tampak depan rumah mereka. Jarang sekali ada rumah yang berhalaman. Namun jalanan kota ini sendiri sepertinya sudah menjadi halaman bagi mereka, karena bersih, teratur dan tak banyak kenderaan yang lalu lalang. Benar-benar sepi dan penuh misteri, tapi kami betah berlama-lama disini.

Yang sangat menarik, kami melihat salah satu hotel bintang 5 di salah satu bangunan tua berlantai 2 yang cukup besar. Tentunya kami heran, apa bangunan setua ini bisa memenuhi standar untuk jadi hotel berbintang lima, di eropa pula? Karena penasaran, kami pun ramai-ramai mengintip ke arah Lobby hotel tersebut. Dan ternyata memang pantaslah menyandang predikat bintang 5. Dibagian dalam gedung sudah di renovasi sedemikian rupa tanpa meninggalkan nuansa kuno. Bagian2 terbaik masih dipertahankan untuk menguatkan kesan antik dan kuno. Interior yang benar2 mengesankan. Berbeda dengan hotel2 di kota, hotel ini menyajikan suasana 'tempoe doeloe' ala Quedlinburg. Romantis..

Banyak sekali lorong di kota ini. Disalah satu lorong kami menemukan pertokoan di sepanjang kiri dan kanan jalan. Sesuai dengan daerahnya yang terkenal sebagai kota tua, maka tak heranlah jika toko-toko disini paling banyak menjual barang-barang antik peninggalan jaman dahulu. Ada lukisan, piring-piring hias, beraneka keramik dengan segala model, hiasan lemari dan masih banyak lagi. Karena bukan penggemar atau kolektor barang antik kami tak membeli satupun barang-barang tersebut. Kami menyusuri lorong sampai ke ujung, dan akhirnya kami menemukan toko yang menjual berbagai souvenir unik khas Quedlinburg. Dan benar saja, seperti aura misteri yang dipancarkan kota ini, souvenir khas di sini adalah boneka nenek sihir dengan sapu terbangnya! Tersenyum saya begitu menyadari hal ini. Mungkin dahulu banyak penyihir yang tinggal disini ya, makanya semua bangunan masih bagus, karena masing2 pemilik rumah dengan keahlian menyihirnya bisa membuat kayu menjadi tembok. Kuat dan Keras, hahaha...! Setelah memilih beberapa souvenir, kami melanjutkan berjalan kaki menuju poros kota untuk mencari restoran, karena sudah waktunya untuk makan siang.


Di poros kota ada lapangan yang cukup luas. Disekelilingnya banyak restoran dan cafe yang menyajikan beraneka menu. Restoran dan cafe yang berjejer rapi ini mempergunakan pinggir lapangan untuk memasang payung-payung tenda tempat duduk pengunjung. Indah sekali, payung beraneka warna, gedung tua yang unik, dengan  cuaca yang sangat cerah. Tapi tak ada satupun restoran Turky di sini. Kali ini kami tak memesan makanan, cukup minum saja. Karena ragu soal halal tidaknya makanan disini maka kami sudah menyiapkan bekal makan siang dari Berlin.

Sambil rehat makan saya memperhatikan pemandangan di sekeliling kami. Tepat di ujung lapangan sebuah gedung sangat tua berdiri kokoh. Bangunan ini sudah terbuat dari batu, dan ditutupi oleh tanaman merambat berwarna hijau menambah keunikannya. Bentuknya seperti istana atau gereja kecil. Saya tak bisa memastikan, karena pada umumnya istana dan gereja di eropa mempunyai banyak kemiripan. Ada palang mengelilingi bangunan ini, pengunjung dilarang melewatinya. Entah karena sedang di renovasi atau karena sangat dilindungi, saya juga tak paham. Yang pasti banyak turis yang berfoto dengan latar belakang gedung tersebut.
Ada pula bus wisata yang membawa para turis berkeliling kota Quedlinburg. Tempat mengambil tiketnya persis di samping restoran ini. Muatannya selalu penuh, dan kebanyakan penumpang berisi orang-orang tua. Suasana Ramai ini tetap membuat nyaman, karena walaupun ramai tapi orang-orang disini  berbicara dengan suara yang pelan. Mungkin takut di dengar nenek sihir yang bisa muncul tiba-tiba dengan sapu terbangnya ya.. :)

Setelah penat hilang, perutpun kenyang kami melanjutkan berkeliling kota. Kali ini kami mencari Castle (Istana kecil) yang katanya sudah sangat tua. Letaknya tak begitu jauh dari poros kota, hanya saja sedikit rumit menemukannya. Namun kami sedikit kecewa, ternyata pengunjung tak bisa masuk karena sedang ada pekerjaan renovasi. Akhirnya kami hanya bisa melihat dari luar. Bentuknya tak jauh beda dengan castle2 eropa pada umumnya. Bangunan utama sangat besar, menara yang cukup tinggi dan terbuat dari batu2 alam berwarna kehitaman. Puas berkeliling castle, kami pun pulang kembali menuju Berlin.