Minggu, 09 Agustus 2026

Anak ku sayang...


Anak ku sayang....
sedanga apa engkau nak? Bunda sedang mengalut rindu padamu. Jauhnya engkau dari pelukan Bunda membuat hati selalu bertanya. Maafkan Bunda jika engkau merasa terlalu di awasi.
saat sendiri seperti ini banyak hal yang ingin bunda ceritakan padamu. Hanya engkau tempat bunda berkesah. Jangan bosan anak ku, bunda berjanji akan mengganti segala perhatianmu dengan cinta yang tak berujung, tak bertepi. Sama luasnya dengan samudera yang diciptakan Allah, setara dengan tingginya langit biru yang menaungi harapan kita.

saat engkau masih kecil, bunda selalu memelukmu. Mungkin itu penyebab sampai saat ini rasanya kosong tanpa pelukanmu. Cinta bunda terhadap mu serupa embun yang turun di pagi hari, menyejukkan rumput liar yang tumbuh di halaman rumah kita. Ingatkah kau anak ku sayang, dulu... dulu sekali, kau sangat suka bergayut manja di bawah lengan bunda. Padahal bunda masih lekat dengan peluh sehabis menyelesaikan bermacam penganan yang akan kita jual esok harinya di pasar kecil di ujung kampung kita. Namun kau mendekap ku dengan penuh cinta, tak hirau atas aroma yang jelas-jelas terhirup oleh hidung mungilmu.

Anak ku sayang..
Berdua melalui pahit getirnya hidup yang telah di torehkan pada takdir kita. Sering bunda menahan tangis, saat melihat engkau berjalan disampingku, menjujung nasib di atas kepala mungil mu. Sering bunda mendecap lirih, menahan isak yang mencekat leher saat bunda melihat senyum mu menyapa segelintir orang yang menyinggahi kita, membayar seperak-dua perak atas nasib yang kita jujung bersama. Engkau putri kecilku yang tabah. Tak mengeluh, walaupun bunda tahu hatimu nestapa. Maafkan bunda, tak mampu memakaikan renda putih bersulam mawar jingga di bajumu. Maafkan bunda tak mampu melapisi kaki mu dengan sepatu berkulit lembut. Bunda mu benar-benar tak mampu untuk semua itu.

Anak ku sayang...
Luka kah engkau atas masa yang telah bunda torehkan padamu?
Tak ada kuasa bunda untuk menukar dan membalikkan waktu. Bunda ingin melakukan apapun buat mu, anak ku sayang. Namun tak ada sayap ku untuk membawamu terbang. Berkeliling mengitari dunia, agar engkau melihat betapa banyak cinta dan kasih sayang di hati bunda untukmu. Bunda hanya mampu mencipta angan untuk mu. Menggaungkan harapan di setiap langkah mu. Menggantungkan mimpi disetiap pagi mu. Bunda mu benar-benar hanya mampu untuk itu.

Anak ku sayang....
Kini engkau beranjak dewasa. Engkau tumbuh menjadi rumpun bungaku yang cantik. Pesonamu serupa pelangi, si pembuat senyum saat orang menatapnya. Santun mu tak menepi, serupa saat dulu kau menawarkan nasib yang kita jujung bersama. Engkau telaga kecilku, tempat bunda melepas dahaga setelah di kecap sengat matahari. Jangan lah engkau berganti rupa nak, jangan pula menambah rupa. Jangan gentar menghadapi nasib mu kelak. Ada atau tiada bunda disisimu, tetaplah mengayun langkah. Karena bunda tak mampu lagi bertahan disisi mu. Jangan menangis nak, jangan iringi kepergian bunda dengan isak mu. Simpanlah ia seperti bunda dulu menahan tangis saat kita berjalan berdampingan menjujung nasib. Bunda mencintaimu. Sama seperti cintamu pada bunda. Tapi waktu kita telah sampai. Bunda tak bisa mengajakmu. Perjalanan kali ini harus bunda jalani sendiri, tanpa mu anak ku. Do'a kan bunda. Hanya itu yang mampu menolong bunda saat kesulitan menerpa di tengah perjalanan nantinya. Tak perlu lagi bunda membuka mata nak, karena dari kelopak mata yang tertutup ini pun bunda mampu merasakan cinta di setiap sentuhanmu yang lembut menggenggam tanganku. Pinta bunda, kumandangkan namaNya, dekat ditelinga bunda, agar aku mampu mendengarnya dengan jelas. Agar sampai ke kalbu, mengantar pergi bunda dengan indah, tanpa rasa takut menghadapNya.



untuk engkau, Ayahku.

Aku memilih mati






Seharusnya kau tak mencintaiku. Cinta yang salah. Diwaktu yang terbalik. Dasar bodoh!
Kata orang, cinta itu indah. Kataku, cinta itu gelap. Kata orang, cinta itu nafas kehidupan. Tapi menurutku, cinta itu nafas kematian. Tak pernah ada cinta yang indah dalam hidupku. Bagaimana dengan cinta keluarga? Aku muak, paling muak. Ayah dan Ibu ku tak pernah punya cinta. Mungkin mereka pun dilahirkan tanpa cinta. Hingga keduanya tak mengenal cinta setitikpun. Saudara serahim? Puihhh…. mual perutku. Kakak perempuan ku tak tahu malu. Menikah setelah isi diperutnya membentuk nyawa. Adik laki-laki ku pecandu segala jenis obat yang mampu menciptakan surganya. Setengah gila dan buas. Ada kah cinta menurutmu yang mengalir dalam darahku? Dan kau masih saja ngotot untuk mecintaiku.

Akan kukatakan siapa aku. Semoga kau mati setelah mendengar kisahku. Mati rasa cintamu padaku.

Aku bunga liar tanpa duri. Tumbuh disembarang tempat yang ku inginkan. Kotor, bau dan busuk sudah biasa kugauli. Soal hidup tak perlu kau tanya padaku. Tak pernah aku risau. Karena aku tak pernah berfikir untuk hidup lama di dunia ku yang sempit dan gelap. Aku hanya menunggu waktu yang tepat.

“Aku tak perduli Nayara, kau cinta yang ku tunggu. Cinta yang ku lantunkan dalam setiap doa ku. Cinta yang membutakan mataku, membelenggu liarku. Aku cuma cinta. cuma cinta Yara. Tak perlu alasan lain, tak perlu tau busukmu, kotormu atau burukmu. cuma cinta.” Sanjungmu hampir mematikan gilaku.

“Aku tak pantas. Sungguh tak pantas. Doa yang kau lantunkan bukan untuk ku. Sudahlah, jangan membantah. Kuhargai perhatianmu, keinginanmu untuk mencintaiku. Tapi ku tegaskan, cintamu salah!” Ucapku sengit, atau lebih tepatnya putus asa.

Aku tak mau berurusan dengan cinta yang sudah cukup memuakkan. Bahkan mendekati batas menjijikkan. Pergi jauh. Jangan dekati aku lagi. Biarkan aku dengan duniaku yang semakin berjelaga. Dunia dengan langit yang kelam, pelangi yang tak berwarna dan angin yang meraungkan amarah disetiap desaunya. Aku tak perduli. Ini lah duniaku. Aku akan terus mengukir petaka di sini. Hingga petaka itu merenggutku dengan kasar. Mematikan ruh ku. Dan tak ada seorangpun yang terluka saat itu. Aku tak butuh itu. Aku tak butuh isak tangis. Tertawakan saja kepergianku. Aku tak keberatan, karena dengan tawamu aku bisa terbang lebih tinggi menjauh dari segala masalah yang memuakkan ini.

*****

Berlalu tujuh hari…

Banyak sekali orang-orang dengan air mata disini. Lihatlah, mereka menangisi seonggok mayat di dipan beralas seprei dan bantal putih itu. Jasad ku yang terbujur kaku. Semalam aku mati. Tepatnya, mematikan diri. Ku rasa itu waktu  yang tepat. Saat kudengar ayah dan ibu ku saling mencaci maki, sumpah serapah dan melontarkan kata-kata kotor di ruang tamu. Saat adik laki-laki ku mengamuk hebat di kamarnya karena kehabisan pil  pencipta surganya yang penuh setan bertaring. Dan saat ku dengar musik keras dari kamar kakak ku yang bersahutan dengan tangis anaknya yang kelaparan, tak dihiraukan ibunya yang sedang menikmati minuman kerasnya.
Waktu yang tepat bukan?

Lalu aku mencari pisau silet yang ku beli di supermarket 7 hari yang lalu. Tak sulit menemukannya. Karena ia kutempatkan pada kotak kecil bersepuh emas. Kotak cincin imitasi pemberianmu, satu-satunya barang yang pernah kuterima. Kubuang cincin murahan itu, aku hanya butuh kotak kecilnya yang manis. Untuk menyimpan penjagal yang telah ku pilih.
Ku arahkan penjagal kecilku tepat di pergelangan tangan kiriku. Melintang garis nadi yang sudah siap menanti di sayat. Ku pandang nadiku dengan kosong, mengucapkan selamat berpisah. Semoga ia tak menyesal telah menjadi denyut kehidupanku selama ini. Dan aku mulai menyayatnya, mengakhiri semua…

*****

Inilah aku sekarang. Hanya berbentuk kabut tipis berwarna suram. Melayang di langit  yang tak perduli dengan kehadiranku. Karena aku memang tak ingin ada yang perduli. Tapi tetap saja mereka menangis, entah untuk apa. Menangisi kepergianku? Padahal saat aku ada kalian mencibir dan meludahiku. Munafik! Selamat tinggal dunia sempitku, dunia gelapku. Walau aku tak tahu dunia seperti apa yang akan ku hadapi. Aku tetap memilih mati.

Lingkar Luka tak bertepi

Aku berdiri di sudut simpang jalan rumahmu, memandang ke jendela kamarmu yang tertutup. Sudah enam hari, kau tak pernah membuka jendela itu. Ada tanya besar dalam hatiku, ingin tahu apa gerangan yang terjadi. Tapi buntu otak ku memikirkan cara untuk tahu. Karena kau tak mengenal aku.

Tentang kamu, Sam.

Biasanya kau selalu terlihat di kamar itu. Duduk di bibir jendela dengan Laptop yang selalu terbuka. Diam-diam Aku mengintip mu,setelah kau memberitahukan alamat rumahmu. Kita berkenalan lewat  komunitas di salah satu jejaring sosial, aku tertarik karena tulisan-tulisan mu yang sedih. Lalu kita mulai berkomunikasi. Setiap hari tak pernah kita lewatkan tanpa sapa. Kau dan Aku, mulai merasa sesuatu yang lain selain persahabatan. Tapi tak pernah kita ungkapkan, karena kita tahu, itu tak pantas. Tak banyak yang kuketahui tentang kamu. Kata mu kau hanya tinggal seorang diri di rumah itu. Kedua orangtua mu tinggal di Volendam. Kau bercerita, Volendam salah satu kota kecil di Belanda yang terletak tepi laut yang cantik. Adik Perempuan mu sudah menikah, ikut suami ke Surabaya. Seorang tukang kebun, Pak No dan seorang pembantu, Mbok Surmin, hanya datang siang hari untuk membersihkan rumah besar itu. Kau tak banyak bercerita tentang kehidupan pribadimu. Akupun tak ingin bertanya lebih jauh. Bagiku, cukuplah kau seperti adanya saat itu.

Tentang Aku, Serena.

Usia ku tak muda lagi. Tahun ini genap empat puluh tahun. Ku ceritakan segalanya. Siapa aku dan bagaimana aku. Termasuk tentang rahasia terbesar dalam hidupku. Bahwa aku bukan perempuan baik, bahwa aku hanya tinggal sobekan lusuh, bahwa aku perempuan dengan seribu lingkar luka tak bertepi di hati. Mungkin jika ada alat yang bisa melongok ke hatiku, akan terlihat betapa banyak goresan disana. Dan aku menyembunyikan semua ini dari keluarga dan orang-orang sekitarku. Yang mereka tahu aku perempuan baik, tegar dan mandiri. Hanya kamu yang tahu sesungguhnya bagaimana aku. Entah mengapa, aku percaya padamu, menitipkan separuh hidupku . Banyak hal yang kau ajarkan padaku. Kau membuat aku mengenal satu dunia baru, dunia yang mampu mengusir sepi dan mengobati luka hidupku.

Tentang Kita.
..
Bahwa benar kita tak mampu lagi saling berdusta. Bahwa kita saling jatuh cinta. Bahwa ada aku dalam hidupmu. Namun kita sadar tak mungkin untuk bersama.  Segalanya goyah. Aku goyah, kau juga. Kita tak punya keberanian untuk lebih berani dalam melangkah. Menurut ku perbedaan usia yang sangat jauh akan membuat kita 'terlihat' aneh. Aku tak ingin menjadi sesal mu di kemudian hari. Menurut mu bukan itu, kau hanya merasa tak pantas buatku, tapi kau tak pernah menjawab tiap aku bertanya tentang apa yang 'tak pantas' itu padaku.. Kita sama-sama terluka. Luka yang menambah panjang goresan di hatiku, entah bagaimana dengan hatimu.
Lalu kau menghilang. Dengan sengaja kau hapus aku dalam setiap jalur komunikasi kita. Entah apa sebabnya, aku tak mengerti. Yang ada hanya rasa sakit dan takut. Takut kehilangan mu.

****
Sore ke tujuh, aku kembali ke simpang ini. Jendela mu masih tertutup. Rumah sunyi itu kelihatan semakin sunyi. Tiba-tiba seorang perempuan paruh baya keluar dari rumah itu. membawa sapu dan serokan sampah. Mungkin ini Mbok Surmin, bisik ku dalam hati. Aku bergegas menghampirinya

"Selamat sore bu, maaf mengganggu. Boleh saya bertanya?"
Aku menyapa perempuan itu dari balik pagar. Ia menoleh, lalu berjalan mendekati ku.

"Oh.. boleh mbak. Mau nanya apa ya mbak?"

"Benar ini rumahnya Sam?"
Perempuan itu setengah terkejut saat ku sebut nama mu.

"Benar.... mbak ini siapa ya?" perempuan itu menjawab dengan lirih. Ada keraguan di sana.

"Saya Serena, teman Sam. Sam nya ada?" Pandangan ku arahkan ke dalam rumah.
Lagi perempuan itu tersentak.

"Mbak Serena yang teman nya Fesbuk Mas Sam ya?"
Kali ini ganti aku yang terkejut. Kenapa dia bisa tahu? Pasti Sam yang bercerita.

"Mari silahkan masuk dulu mbak, saya mbok Surmin. Pembantu di rumah ini.
Ada yang mau saya sampaikan sama mbak, dari mas Sam."
Mbok Surmin, tepat dugaan ku. Pagar di buka, akupun mengikuti langkah mbok Surmin.

"Silahkan duduk mbak, saya ambil dulu titipannya." 
Rumah yang bersih, rapi namun jelas-jelas beraroma sepi yang menggigit.

"Ini mbak. Syukurlah mbak datang. Saya sudah bingung, takut tak mampu
menyampaikan amanah mas Sam. Ini pesan terakhirnya pada saya."
terkejut aku mendengarnya. Ada apa ini?

"Maksud mbok....?" kalimatku menggantung, jantung ku menerka-nerka.

"Mas Sam wafat sepuluh hari yang lalu mbak..... di Volendam."
kristal menggantung di mata tua perempuan ini.

Aku terhenyak, pusaran hitam tiba-tiba seakan mengejarku. Nafasku menderu, sesak bergemuruh di dada.
Perlahan rasa sakit menusuk jantung ku dengan membabi buta. Berdarah.
Lunglai aku pulang ke rumah, menggenggam sepucuk amplop amanah Sam pada ku.

Ku rebahkan tubuh lelah ku di ranjang, membuka amplop itu.
tulisan tangan Sam...
Serena, aku mencintai mu.

Maaf aku tak bisa bertahan lagi. Banyak yang tak kau ketahui tentang aku.
Aku tahu kau sering mengamatiku dari simpang jalan itu.
Kau cantik Serena.
Aku paling suka saat kau datang mengenakan kerudung oranye,
warna yang cocok buatmu.
Sejujurnya aku sangat menantikan kehadiran mu di simpang jalan itu, di setiap sore.
Sengaja aku berlama-lama duduk di pinggir jendela, agar kau puas memandang ku.
Nyaman rasanya menyadari kehadiran mu di sana, meski kita tak saling menyapa.
Maafkan aku tak berterus terang. Niatku baik, walau mungkin cara ku salah.

Serena...
Aku seorang lelaki cacat dengan jantung yang tak sempurna. Itu sebabnya kau selalu melihatku duduk di depan meja laptop ku kan? Karena aku tak mampu berdiri, apalagi berjalan. Cacat ini ku bawa sejak aku lahir.
Dokter bilang aku tak boleh berputus asa, namun aku tahu waktu ku tak banyak. Ini lah jawaban atas pertanyaan mu tentang  'tak pantas' nya hubungan kita.
Sampai aku mengenalmu, rasanya aku ingin hidup lebih lama. Tapi lagi-lagi aku tahu, tak mampu melawan semua sakit yang menyerangku. 
Jangan menangis Rena, aku tak ingin kau menuai luka lagi. Namun tak ada daya ku. Sengaja aku tak menghubungi, karena tak kuasa melihatmu bersedih. Tentang rahasia mu, aku lah si penyimpan abadi. Akan ku bawa bersama maut ku Rena. Jangan bersedih, kau wanita terhebat yang mencintai ku tanpa banyak tanya.
Aku merasa cukup, di akhir hidupku, menemukan cinta sebenar benarnya cinta.
Cinta kamu, terhadap aku.


Sam.

Ada selembar foto terselip, foto ku saat megintaimu di simpang jalan itu.
Kerudung oranye.

Kali ini air mata tak mampu ku hadang lagi. Tumpah ruah.
Maka disinilah aku sendiri sekarang menatap cakrawala, dan menitipkan sebuah doa yang penuh harapan untuk hari esok. Selamat jalan Sam, menarilah di langit. Karena sekarang kau tentu sudah bisa melakukan apa yang selama ini tak mampu kau lakukan.

Note : Untuk melihat karya Ramen yang lain silahkan klik di sini


Ingin bergabung dengan kami? Klik logo kami
1320907220703823535

Kakak ku Rani yang Cantik

Kakak ku Rani. Berkulit putih, rambut hitam sedikit bergelombang. Wajah oval dengan mata sayu melengkapi keelokan rupanya. Kakak ku Rani, kembang desa kami yang kesohor. Tak ada pemuda kampung kami dan kampung tetangga yang tak mengenalnya. Termasyhur, itulah predikat yang disandang kakak ku.

tapi itu dulu.. dulu sekali.

Kakak ku Rani, selalu ceria. Tak pernah raut wajahnya masam atau cemberut. Tiap kali disapa oleh orang-orang kampung, selalu ia balas dengan ramah. Dari yang iseng sampai yang pura-pura serius. Semua di tanggapi dengan baik, paling tidak dengan senyuman. Kalau sudah begitu, hati yang menyapa bisa langsung keok.

tapi itu dulu... dulu sekali

Kakak ku Rani, juara di kelas madrasah yang gurunya hanya seorang janda miskin. Ini sekolah satu-satunya di sini. Kampung kami yang  jauh dari kabupaten memang sangat terpencil. Mungkin tak sempat pemerintah memperhatikan kami, dan mungkin juga tak ada guru yang mau mengabdi di kampung ini. Terlalu jauh, terlalu sunyi, terlalu 'kampungan' dan masih banyak 'terlalu-terlalu' lainnya yang sering dijadikan alasan. Dulu pak Kades masih sering sowan ke kabupaten, berupaya mengajukan permintaan soal pendidikan . Tapi hasilnya tetap saja sama. Mungkin karena tak juga ditanggapi, akhirnya pak Kades kami yang gagah (karena hanya beliau yang memilki foto dengan seragam putih lengkap dengan atribut 'kadesnya') menyerah. Kami pun pasrah, hanya madrasah ini lah satu-satunya tempat kami menimba ilmu. Dan kakak ku Rani lah murid kebanggaan.

tapi itu dulu.. dulu sekali.

Lalu kakak ku Rani yang cantik merantau ke negeri asing. Ikut program TKI ke Arab Saudi , begitu yang kudengar.
Tiga bulan pertama kakak ku Rani masih mengirim kabar pada ibu. Bercerita bahwa ia sangat ingin pulang. Sering ku dengar ibu menangis membaca surat dari kakak ku. Tapi ibu hanya diam, tak bercerita pada ku. Mungkin ibu berfikir, tak ada gunanya bercerita pada seorang anak remaja.
Setelah tiga bulan, kakak ku Rani tak pernah lagi mengirim kabar. Entah apa dan bagaimana ia, ibu benar-benar putus asa. Tiap malam kudengar doa ibu sehabis sujudnya. Ibu ingin kakak ku Rani pulang.
Hingga akhirnya  doa ibu terkabul. Kakak ku Rani pulang. Pulang dengan kondisi yang menyedihkan.

Lalu kakak ku Rani berubah aneh. Tiap ditanya selalu jawabnya meracau. Mulanya ibu mengira kakak ku sedang sakit biasa saja. Namun lama-kelamaan ceracaunya semakin tak menentu. Lalu ibu berinisiatif untuk membawa kakak ku ke 'orang pintar'. Aku tak paham betul apa maksud orang pintar. Yang ku lihat, kakak ku di jampi dan di sembur dengan air dari mulut orang pintar tersebut. Mungkin inilah yang disebut 'pintar', aku tak begitu ambil pusing. Aku hanya ingin kakak ku Rani kembali seperti semula. Namun apa hendak di kata, semua upaya nampaknya sia-sia. Kakak ku semakin 'kacau'. Jika tak diawasi, kakak ku kabur dari rumah. Keliling kampung sambil tertawa-tawa sendiri. Rambutnya yang dulu hitam dan bersih, sekarang berubah gimbal dan kusam karena kakak ku sudah tak ingat lagi untuk mandi. Kulitnya yang bersih sekarang hitam dan kering karena kakak ku selalu berkeliaran di terik matahari sambil menari. Matanya yang dulu bersinar sayu, kini jalang dan penuh luka. Entah apa yang menimpanya, kami benar-benar tak mengerti.

Kakak ku Rani semakin brutal. Tiap kali ada yang mengejeknya, kakak ku langsung mengejar atau melempar dengan apa saja yang di dapatnya. Sudah berulang kali kami menanggung caci maki dari orang-orang di kampung yang dilukai oleh kakak ku. Ibu menangis, menangisi nasib kakak ku. Tak ada pilihan lain, ibu harus bertindak. Kakak ku Rani yang cantik terpaksa di pasung.

Kakak ku Rani terkurung dalam ruangan sunyi dan pengap. Bau dan gelap. Setiap hari kakak ku terus bernyanyi tanpa syair. Nadanya menyayat hati, tapi tak seorang pun yang tahu apa yang diucapkannya. Bahasanya aneh. Malam ini, aku berdiri dari balik jendela kecil dari luar rumah reot yang sengaja kami bangun untuk kakak ku Rani. Ku tatap kakak ku di dalam ruangannya yang pengap, gelap dan bau. Kakak ku juga sudah lupa soal kebersihan dan kesehatan, dengan se enaknya berkotoran di kamar kumuhnya. Suaranya lirih, bergumam tak jelas dengan bahasa yang aneh. Bahasa yang hanya dimengerti oleh kakak ku sendiri. Isak ku tak tertahan. Kupandang langit, maka disinilah aku sendiri sekarang menatap cakrawala, dan menitipkan sebuah doa yang penuh harapan untuk hari esok.  Doa yang kutujukan hanya untuk kakak ku Rani yang cantik, semoga besok ia tak mengamuk lagi.

Dengan Bismillah, aku memilihmu


Seribu hari . Sejak kau meninggalkan aku dalam keterpurukan, gelap dan kesedihan yang entah kenapa dengan begitu bodohnya ku pertahankan, akhirnya aku mengerti. Bahwa kau tak akan pernah kembali. Saat ini kau sudah bahagia, terbukti dengan apa yang ku lihat tadi. Kemesraan dan cinta terpancar dari matamu saat kau berbicara pada wanita itu. Kalian memang pasangan serasi, harus kuakui. Aku memang terlalu jauh berhayal, terlalu naif berfikir bahwa kau tak akan pernah menemukan wanita lain yang mencintaimu seperti cintaku padamu.Tolol. itu kata yang tepat buat aku. Ini tangisku yang terakhir buatmu, aku harus bisa melupakan mu dan semua tentang mu. Aku harus berdamai dengan hatiku, bahwa menunggumu adalah hal terbodoh yang pernah kulakukan.

......................


Sepuluh hari kemudian...

Berkenalan dengan Barga.
Lelaki tampan, berkelas dan berkecukupan. Berasal dari keluarga terpandang. Tak ada yang salah, apalagi kurang. Janji bertemu hari ini, di resto Jepang tempat favorit Barga. Restoran berkelas, yang sama sekali tak kusuka. Hampir saja kumuntahkan makanan setengah matang ini. Tapi sudahlah, aku menurut saja.

"Barga."

"Aisya."

"Maaf buat kamu menunggu. Mau pesan apa? Ini tempat favoritku, biasa kalau bawa kolega sering kesini. Yah maklumlah, aku banyak tamu dari luar. Jadi gak mungkin juga aku bawa ke warung padang."
Barga bercerita dengan sombong, menimbulkan rasa muak di dadaku. Dan waktu terasa begitu lamban berjalan. Barga menguasai pembicaraan tanpa merasa perlu mendengar pendapat ku. Bercerita atau lebih 'tepatnya' memamerkan apa yang dia miliki. Aku benar-benar penat!

Lalu Hisar..
Manager di sebuah bank ternama. Saat bertemu, Hisar lebih banyak menghabiskan waktunya dengan senyum-senyum sambil terus sibuk memainkan jemari pada handphone canggih bermerek terkenal yang mahal itu. Aku merasa tersinggung, nampaknya Hisar lebih tertarik pada dunia maya ketimbang menyapa aku yang nyata-nyata ada di depannya.

Dan Himawan,
pemuda pendiam atau lebih tepatnya sangat pendiam. Hanya menjawab jika aku bertanya, itupun menjawab dengan seperlunya tanpa menatap lawan bicara. Garing!

Kaisar, yang tanpa malu-malu mengakui kalau dirinya seorang Homo hampir membuat jantungku melompat!

Gundhi, yang tak bisa menahan nafsu makannya.

Lalu Bira, Herman dan.... masih sederet nama lainnya, aku tak ingat lagi. Semua laki-laki yang di kenalkan padaku akhirnya berlalu begitu saja, tak ada seorangpun yang tertinggal. Komentar tak sedap pun mulai bermunculan. Debby dan Nurul, dua sahabat cantik ku yang terlihat paling putus asa.

"Ais... aku pusing liat kamu. Semua tak cocok? Come on  girl, wake up!" Debby mulai kesal

"Iya Ais.. kamu mau yang tipe gimana lagi? Mau yang seperti Richard Gere ya? Ayolah non, jangan biarkan mimpi itu terus mengikutimu." Kali ini si pendiam Nurul ikut protes.

Aku hanya diam, tak mampu menjawab karena memang tak ingin menjawab. Aku bukan menolak semua lelaki itu tanpa alasan. Hanya saja ku rasa tak perlu menyampaikan penyebabnya. Cukuplah Aku saja yang tahu. Yang terpenting aku tak berputus asa. Aku hanya sedang menunggu rahasia terindah dalam hidupku. Dia, lelaki itu, pasti datang, suatu hari kelak. Aku hanya butuh waktu. Titik.

.....................

Seribu tujuh puluh  hari,

Ding. pesan masuk di handphone ku mengusik ketenangan sore. Dengan malas ku raih dan membaca pesan yang berasal dari nomor yang tak terdata di handphone ku.

'Assalamu'alaikum Aisya, saya Palwa. Maaf jika mengganggumu. Aku dapat nomor kamu dari Pram, sepupu kamu. Jika kamu berkenan aku ingin kita berteman.'

Demi nama Pram, sepupu kesayanganku yang telah tercatut, aku terpaksa membalas seperlunya.

'Dengan senang hati, kamu sudah tau nama ku kan?'
'Boleh ketemu Ais?'
'Boleh, tapi tidak dalam waktu dekat ini, aku sedikit sibuk'
'Baiklah, mungkin lain waktu. Tak keberatan jika aku mengirimi SMS kan?'
'Silahkan.'


...................

Seribu Seratus Hari,

Besok kau akan mengucapkan Akad mu buatku. Kaulah orang yang kutunggu selama ini. Rahasia indah yang selalu dinantikan setiap wanita, dan esok adalah giliranku untuk mengetahui rahasia itu. Kau tak tampan, tak pula berbadan atletis. Pekerjaanmu pun tak berada di dalam ruangan dengan dinding bercat bersih, perabotan bagus serta ruangan ber pendingin. Kau hanyalah seorang pedagang beras di pasar induk yang selalu menutup toko mu di setiap waktu sholat agar bisa berjamaah di masjid pasar. Penampilanmu hampir tak pernah rapi, namun aku tahu kau sangat menjaga kebersihannya. Dan kau, seorang duda dengan dua anak yang masih kecil, istrimu wafat setahun yang lalu. Namun aku merasa yakin untuk menghabiskan sisa umurku bersamamu dan anak-anak mu, yang kelak akan menjadi anakku. Dengan mu aku ingin mewarnai alam anganku dengan warna cinta kasih tulus yang selalu ku lihat saat kau memeluk Daffa dan Salwa, kedua buah hatimu. Sapa santunmu, perilaku serta perhatian yang selalu tepat membuat hari-hari ku bersamamu menjadi semakin bermakna. Karena kau telah memikatku dengan keindahan iman yang kau miliki.

Sejak kau menyapaku melalui pesan itu, perlahan kita mencoba untuk saling mengenal. Sapamu tak pernah berlebihan, namun telah mebuat aku merasakan sesuatu yang tak pernah kurasa sebelumnya, dan tanpa sadar aku selalu menantikanmu. Kau membuat aku mengerti sesuatu yang selama ini tak pernah kumengerti. Bahwa ketulusan dan keikhlasan jauh lebih berharga daripada cinta yang menggelora. Karena tak akan menimbulkan sakit, atau perih, atau luka.

Lalu dengan Bismillah, aku memilihmu, Palwa.

Setelah dua puluh tahun

Hane meraih novel yang belum habis dibacanya. Masih sepertiga halaman, masih banyak waktu. Tak ada yang perlu diburu, tak seperti dulu saat masih bekerja. Wanita paruh baya ini menyalakan lampu baca di sudut ruang tempat biasa ia menghabiskan waktu untuk membaca beraneka macam buku. Sesekali, jika penat membaca, Hane menulis. Menulis apa saja yang ada di benaknya. Bukan tulisan komersil, lebih tepat jika di sebut ungkapan hati perempuan yang memilih hidup sendiri ini.
Sudah hampir sepertiga malam. Hane beranjak dari buku bacaannya, Fifth Sally. Novel yang berkisah tentang wanita multi kepribadian ini cukup menarik minatnya. Waktunya Tahajjud. Bersujud di tengah malam selalu membuat batin Hane tentram. Ia percaya setiap ibadah pasti memberikan kenyamanan bagi yang melakukannya. Terlepas dari apa tujuan dan maksud yang diinginkan, Hane hanya merasa alangkah meruginya ia jika tak berusaha untuk dekat dengan Tuhannya.

"Ingatkah kau padaku?" bisik lembut batin Hane. Duduk dilantai sehabis tahajjud beralaskan sajadah, Hane memejamkan mata tuanya sembari berusaha mencari bayangan laki2 dari masa lalu itu. Segaris senyum tipis  terlukis di bibirnya. Hanya kenangan yang tertinggal.
Diusianya yang mulai senja, Hane memilih untuk tinggal sendiri. Rama, anak lelaki yang sedari kecil ia asuh kini sudah mandiri. Kehidupannya pun sangat baik. Menikah dengan Jayanti yang cantik dan lembut, Hane yakin Rama telah memilih wanita yang tepat. Tawaran anak dan menantunya untuk tinggal di rumah mereka secara halus ia tolak. Saat inilah yang ditunggunya, saat ia sendiri, hanya ditemani bayangan masa lalunya. Rumah mungil dengan halaman asri menjadi pilihan. Rumah yang di tata dengan amat sederhana mencerminkan diri perempuan ini. Hane hanya ingin sisa waktu sepenuhnya menjadi miliknya. Kesendirian membuat perempuan paruh baya ini merasa sangat dekat dengan seseorang. Seseorang dari masa lalunya, yang ia sendiri tak pernah tahu keberadaannya dimana.

****

Hane menutup novel yang belum selesai  dibaca. Bersandar dikursi kayu yang diberi alas bantal lembut bersarung katun motif bunga mawar kesukaannya. Pandangannya menerobos jendela kaca tanpa jeruji yang menghadap ketaman belakang. Taman kecil inilah yang selalu menjadi tempat angannya mengembara. Membiarkan ingatannya pelan membuka kisah masa lalu yang saat ini menjadi kekuatan terbesar baginya. Seseorang dari masa lalu, yang perlahan dibiarkannya merasuki kehidupannya kembali, menemani saat-saat sendiri membuat Hane merasa tak kesepian. Hanya kenangan ini yang tersisa, dan Hane tak ingin yang lain lagi. Bayangan dari masa lalu yang tak pernah hilang dari batin perempuan ini, sedari dulu selalu ia simpan rapi di sudut hatinya. Sudut yang tak pernah dibuka, tak pernah di sentuh namun tak pernah pula dibiarkannya membeku. Selalu dijaga, hingga saatnya tiba. Saat Hane sendiri, terlepas dari segala beban hidupnya, terlepas dari berbagai tanggung jawab. Seperti saat ini, saat yang telah lama dinantikannya.

Sabtu sore seperti ini, duapuluh tahun yang lalu...
"Sayang, kamu dimana? jangan lupa nanti sore kita ada janji ketemuan ditempat biasa."
Suara laki2 itu masih terekam rapi di benak Hane. Janji bertemu di tempat biasa yang menjadi tempat favorit mereka hanyalah sebuah toko buku kecil di salah satu sudut jalan dipinggir kota tempat tinggal mereka. Toko buku yang dilengkapi dengan gerai kopi dan kue yang tak begitu ramai pengunjung ini menjadi tempat janji bertemu Hane dan laki2 itu disetiap akhir pekan. Sepulang kantor, mereka biasanya langsung menuju kesana. Bertemu dengan laki2 itu mampu membuat Hane merasa memiliki separuh dunia. Separuh dunia yang hanya berisi keindahan dan kehangatan. Sorot lembut matanya mampu menyejukkan hati yang galau. Sapanya yang selalu membuat aliran darahnya mengalir deras menciptakan semangat baru yang menari-nari dibenak Hane, terus menerus memicu hasrat ingin bertemu yang tak mampu mereka bendung, hingga berpuluh pertemuan pun mereka rajut disetiap akhir pekan.

Pertemuan Pertama,
Jemari Hane meraih buku yang sudah cukup lama dicarinya. Novel lawas yang lama dicarinya ini sebelumnya sudah pernah dimilikinya. Sayangnya salah satu novel favoritnya ini rusak saat dipinjam oleh Dea, sahabat karibnya. Keyra putri Dea yang masih balita merobeknya. Itu sebabnya Hane kembali mencari buku ini. Dengan hati girang Hane melihat buku yang dicarinya berada di rak paling atas toko buku yang baru kali ini dikunjunginya. Toko buku kecil disudut jalan sepi yang asri dan nyaman ini hasil rekomendasi Dea sebagai pembayar rasa bersalahnya. Hane melihat sekitar ingin mencari bantuan. Tak sampai tangannya meraih buku itu. Namun nampaknya tak ada penjaga toko disini. Hane berusaha meraih dengan berjinjit agar tangannya sampai ke rak paling atas. Saat berusaha meraihnya, seseorang datang membantu.

"Buku yang ini mbak?" sapanya dengan akrab
"Iya, makasih mas. Maaf  sudah merepotkan."
"kebetulan saya juga sedang mencari buku ini. Syukurlah masih ada 2. Jadi kita tak perlu 'bertarung' memperebutkannya ya." Laki2 itu tersenyum.
Hane tertawa, "Ada2 saja mas ini."
Laki2 yang cukup menarik. Dan perbincangan mereka pun berlanjut.

Pertemuan pertama di toko buku itu menuntun puluhan pertemuan berikutnya. Pertemuan yang awalnya tak disengaja, kemudian berlanjut menjadi rutinitas. Sengaja mereka menciptakannya, membuat janji temu dengan berbagai alasan yang sebenarnya tak penting. Hane menyadari ada yang salah saat itu. Namun ia membiarkannya. Perasaan yang menggayutinya jauh lebih penting dibanding rasa bersalahnya. Tak ingin Hane berpaling, tak ingin Hane menjauh. Yang ia tahu hanya ingin selalu bersama laki2 itu. Sampai saatnya nanti, saat laki2 yang sangat dicintainya itu harus melangkah meninggalkannya.

*****

Pagi ini cuaca mendung. Hane menyeduh teh hijau kesukaannya kedalam poci keramik putih berlukis mawar merah jambu muda oleh-oleh Rama dari Cina. Roti gandum dan butter serta sebutir apel menjadi menu sarapannya pagi ini. Usia yang tak lagi muda membuatnya semakin berhati-hati dalam memilih makanan. Hane tak ingin menjadi beban buat Rama jika ia sering sakit2an. Perlahan hujan mulai merintik ke bumi. Dipandanginya butiran halus yang turun seakan berlomba mencapai bumi. Saat hujan seperti ini, Hane selalu ingat pada kenangannya. Entah mengapa, pertemuan mereka sering kali diwarnai oleh hujan. Angannya kembali mengembara, mengarungi samudera masa lalunya yang menjadi teman berlayar menghabiskan waktu.

Saat itu, dipertemuan yang kesekian kalinya....
Hane tersenyum saat laki2 itu melambai kearahnya dari seberang jalan. Mengenakan kemeja putih bergaris halus yang di padu celana katun hitam menambah rasa gemuruh di dadanya. Saat itu gerimis kecil menghujani jalanan. Hane lebih dulu sampai, tak sabar ingin bertemu dengan laki2 yang mulai menarik hatinya. Banyak hal yang mereka bincangkan saat itu. Dari soal buku yang sedang mereka baca, soal baju yang dikenakannya, bahkan sampai soal ikan hias peliharaan Hane. Diam-diam Hane memperhatikan wajah laki2 ini. Wajah bulat yang kekanak-kanakan, mata yang tak begitu besar namun memiliki sorot yang teduh, hidung sedikit bangir dengan tahi lalat di sisi kanan dan bibir yang agak tebal dengan kulit berwarna coklat secara keseluruhan bukanlah gambaran yang luar biasa. Titik hujan masih melekat di ujung-ujung rambutnya yang sedikit memutih, membentuk butiran cahaya. Tak ada yang terlalu istimewa pada pisik laki2 ini. Hane menyukai tutur katanya. Menyukai saat Hane bertanya ia selalu memberikan jawaban yang sering membuat Hane kagum. Caranya berbicara memesona Hane. Sederhana namun mampu menjawab semua keingintahuan Hane. Begitu seterusnya, perbincangan yang mengalir membuat mereka tak menyadari waktu yang terus berlalu, hingga tiba saat mereka harus berpisah. Entah siapa yang memulai, mereka pun sepakat membuat janji temu di minggu depan, ditempat yang sama dan jam yang sama.

Masa berjalan, seiring irama hati Hane yang bersenandung mesra. Tak ada yang diinginkannya lagi, selain menikmati saat2 bersama laki2 yang dicintainya ini. Cinta yang sebenar-benarnya cinta. Tak pernah Hane menuntut apapun dari laki2 itu. Yang dia tahu hanya hatinya terlalu mencintainya. Tak pernah pula Hane takut saat laki2 itu akan pergi meninggalkannya. Karena baginya, sepanjang hidupnya laki2 itu akan tinggal dihatinya. Indah yang dirasakannya saat bersama sudah cukup menjadi bekal melanjutkan sisa hidupnya kelak. Tak ada yang salah, tak ada yang harus disesali dan tak ada yang perlu dibenci. Bahkan sampai saat ini, saat usia Hane semakin senja. Saat matanya mulai kabur, saat telinganya mulai tak mampu mendengar dengan sempurna, saat rambut putih mulai menampakkan diri di kepalanya, dan saat ia merasa kakinya mulai goyah menopang tubuhnya. Namun hatinya masih seperti dahulu, selalu mengalunkan lagu mesra saat ingatannya kembali pada laki2 itu. Hati dengan senandung yang tak pernah berubah, tak pernah berpaling.


****

Untuk pertama kalinya...
Mereka memilih tak bertemu di toko buku. Laki2 itu yang memilih tempatnya. Restoran cantik yang romantis membuat Hane sedikit gugup.

"Aku mencintaimu." Laki2 itu berbisik di telinganya.

Hatinya kembali bersenandung mesra. Benarkah ucapan itu keluar dari bibir laki2 yang mulai dicintainya ini? Hane menepis tanya itu. Ia tak perduli, benar atau dustakah laki2 itu padanya. Yang ia tahu hatinya sedang mencintai. Seharusnya cinta yang tulus tak berpamrih. Seharusnya cintanya tak memerlukan banyak tanya ataupun jawaban. Mencinta cukup hanya dengan mencintainya, tak perlu yang lain. Kenaifan membalut hati Hane. Ia tak perduli. Baginya diberi kesempatan untuk bisa mencintai cukup lah sudah. Diberi sedikit waktu bersama laki2 itu lebih dari cukup buatnya. Tak banyak yang diharapkannya, karena ia memang tak membuat hatinya berharap. Jalani saja, tak perlu menganyam mimpi. 

Segalanya indah, tak ada yang salah saat itu. Saat-saat terbaik dalam hidupnya telah ia kecap. Hane tak menyesal mengenal laki2 itu. Tak pernah merasa salah. Cinta yang dianugerahkan bukanlah atas permintaan mereka. Pertemuan yang tak pernah disesali walaupun berakhir dengan cara yang mereka pilih pun tak mampu menghapus cinta dihati perempuan ini.
"Laki2 terbaik dalam hidupku hanya kamu", selalu Hane membatin saat berada dalam dekapannya. Saat kebersamaan yang mereka nikmati dengan indah, saat pelukan masih membalut kehangatan hati. Hane tak pernah menyesal, benar-benar tak menyesali saat-saat bersama laki2 ini. Semua karena Hane merasa yakin atas cintanya. cinta yang dipenuhi kesungguhan hati. Berpuluh pertemuan mereka rangkai bersama. Hingga saatnya tiba saat jalan yang harus mereka lalui telah sampai di persimpangan.


****

"Benarkah kau yang meninggalkan aku?"
pertanyaan yang tersimpan dihatinya tak memerlukan jawaban.

Laki2 itu pernah memintanya,
"Menikah lah dengan ku Ne... aku benar-benar mencintaimu."

Di setiap pertemuan mereka akhir-akhir ini Laki2 itu kerap kali meminta Hane untuk bersedia menikah dengannya.  Hane tak bergeming, tak tahu apa yang harus dikatakannya.


"Menikah dengan ku sama artinya kau harus menceraikan istrimu."
Hane mendesah lirih.

Batinnya bergejolak. Bukan ini yang diinginkannya. Benar memang ia sangat mencintai laki2 ini. Benar juga bahwa ia tahu bahagia yang dirasakan laki2 itu dan kebahagiaan yang dirasanya mampu memberikan ketentraman. Mencipta keindahan yang membuatnya tak ingin menjauh. Kasih sayang yang mereka ciptakan seharusnya tak melukai orang lain. Tak ingin Hane menjadi pendusta pada dirinya. Bahagia yang dijanjikan angan mereka tak sepenuhnya dipercayai Hane. Tak yakin ia bisa merajut kebahagiaan jika seseorang yang lebih dulu hadir dalam hidup laki2 ini terluka. Tak mampu ia membayangkan kepedihan dan amarah yang mereka ciptakan menggurat hati kedua anak laki2 ini. Hane tak ingin menjadi noda hitam. Hane tak memiliki pilihan lain.

"Tak bisa kah kau merubah keputusanmu?
Tak bisakah kita membiarkan saja apa yang sudah ada padaku,
jauh sebelum kita bertemu?"

"Bahwa kau telah beristri dan memiliki anak?"

"Tapi aku tak bahagia Hane..
Dengan mu aku merasakan mencinta dan dicinta yang seutuhnya.
Kau tak pernah berkata tidak, tak pernah menyakitiku.
Selalu menjaga hati dan rasaku.
Aku tahu terkadang kau terluka, tapi tak pernah kau ucap.
Kau hanya diam, dan diam mu menyebabkan cinta
yang semakin tak berkesudahan buat ku. Aku ingin hidup bersama mu."

"Jika kau benar mencintai ku dan ingin hidup denganku,
mengapa tak berani kau memutuskan?
Aku tak sanggup jika harus berbagi." 

"Aku tak bisa melukai anak-anak ku Ne.
Mereka tak bersalah". pandangan Laki2 itu menerawang jauh,
ada luka disana.


"Dan menurutmu, menikah diam2 dengan ku tak melukai mereka?"

Laki2 itu memejamkan matanya. Hane meraih jemari Laki2 yang sangat dicintainya ini. Menggenggamnya dengan lembut, seakan mencoba mengalirkan kekuatan padanya. Padahal hatinya mulai tak berirama lagi. Tapi ia tak ingin kalah oleh hasrat yang mengepung hatinya. Mencoba membutakan pikirannya, menjeratnya dalam lingkar luka yang tak bertepi. Penolakan halus yang dilakukannya mengukir luka dihati, namun Hane tak punya pilihan lain. Hane tahu persis, Laki2 ini tak akan menuruti maunya. Hane sangat mengenalnya.

"Jangan beri aku mimpi. Kita sama2 mengerti, tempat kita berbeda.
Cinta lah aku dalam hatimu yang paling gelap, jangan biarkan ada yang tahu.
Aku tak ingin kita saling melukai nantinya.
Tidak kah kau merasa kita sudah sampai?"

Dan Laki2 itu merengkuh Hane. Memeluk perempuan tercintanya dengan rengkuhan kasih yang tak berbilang. Perih menginjak-injak hatinya, tapi ketegaran perempuan ini membuatnya bertahan. Tak pernah perempuan ini melukainya. Tak pernah sekalipun kecuali penolakan yang memang harus ia lakukan.

Hane jatuh cinta padanya. Laki2 yang telah ber istri dengan perbedaan umur yang cukup jauh. Saat itu usia Hane 34 tahun, sedang laki2 itu sudah berumur 53 tahun. Tak pernah Hane merasa ada yang salah. Kalaupun ada, mungkin hanya lah soal waktu, atau pendapat orang-orang yang tak mengerti tentang rasa cintanya. 


****

Hane menjalani hidupnya sendiri. Kesibukan yang kian meningkat sengaja ia ciptakan agar mampu melewati hari tanpa luka karena kehilangan. Tak ada kabar sejak saat itu. Pembicaraan itu adalah pertemuan terakhir mereka. Hane yang memutuskan. Permintaan terakhir Laki2 itu sebelum ia pindah tugas ke luar negeri entah samapi berapa lama, telah ditolaknya. Hane tak ingin diberitahu kapan ia akan berangkat atau kemana ia dipindahkan. Biarlah semua utuh dalam angannya. Utuh sampai pada titik terakhir kesempurnaan yang di ciptakan perempuan ini. Kemudian Rama datang ke dalam hidupnya. Anak laki2 yang diadopsinya sejak berumur lima tahun ini mampu menepis sepi Hane. Kasih sayang tercurah padanya. Hane membesarkan Rama dengan sepenuh jiwa. Membentuk pribadi yang tangguh dan memberikannya pendidikan yang baik menjadikan Hane merasa hidupnya lebih berarti.
Dengan sabar ia melewati hari-harinya. Banyak kesedihan dan kesulitan dilaluinya sendiri. Tak jarang ia merasa putus asa, namun Rama dan kenangannya selalu kembali menyemangatinya. Berpuluh tahun yang sepi dilalui dengan berjuta butiran kerinduan. Setelah Rama cukup menguasai dengan baik segala urusan perusahaan yang telah dibinanya berpuluh tahun, perempuan ini pun memilih mundur. Menyerahkan tanggungjawab dan kepemimpinan sepenuhnya kepada Rama. Dan Hane merasa sangat puas, Rama tak pernah mengecewakannya. 

****

Dua puluh tahun sudah sejak pertemuan terakhirnya dengan Laki2 itu. Hane masih mencintainya. Diusianya yang sudah menginjak angka 56, bayangan itu masih tetap ia simpan. Setahun belakangan ini Hane malah sengaja mendatangi toko buku kecil tempat mereka dulu sering bertemu. Merangkai kepingan kenangan yang tak ingin ia lupakan. Ada rasa nyaman saat Hane berada di toko itu. Tak banyak perubahan disini, mungkin pemiliknya memang sengaja mempertahankan keunikan tokonya. Perubahan yang paling mencolok hanyalah pada mesin hitung otomatis yang sekarang terletak di meja kasir. 

Sabtu sore ini, Hane berencana kembali ke toko itu. Rama mengerti bahwa ada sesuatu yang sangat berarti buat Hane di toko buku itu. Kasih sayangnya pada wanita ini menyebabkan Rama selalu khawatir jika Hane bepergian seorang diri. Itu sebabnya, Rama hanya mengijinkan Hane bepergian jika diantar supir kepercayaannya. Tapi Rama tak ingin bertanya lebih jauh. Biarlah Hane menyimpannya. Jika ia ingin berbagi, pasti Rama lah orang pertama yang akan mendengar ceritanya.Kasih sayang, perhatian, didikan dan nasehat wanita ini selalu ia dengarkan. Tak pernah Hane menyimpan rahasia terhadap Rama, kecuali soal yang satu ini. Rama menghormati dan menyayangi wanita yang diketahuinya bukan ibu kandungnya. Tepat saat ia berulang tahun yang ke tujuh belas, dengan penuh kasih sayang dan tutur yang lembut, Hane membuka lembaran kisah tentang Rama. Tak ada yang disembunyikannya dari Rama. Bahwa orangtua kandungnya yang tewas karena kecelakaan mobil yang mereka tumpangi saat hendak pindah dari desa ke kota ini untuk mengadu nasib, tak terselamatkan saat itu juga. Rama masih berusia 2 tahun. Saat kecelakaan ia masih berada dalam pelukan ibunya yang berusaha melindunginya.
Samar ia mengingat, pertama kali bertemu dengan Hane di panti asuhan. Saat itu usianya sudah lima tahun. Wanita dengan wajah lembut dan sorot mata penuh kasih ini ini memeluknya dengan segenap ketulusan. Namun Rama sangat menghormati dan menghargai apa-apa yang menjadi urusan pribadi wanita yang sudah dianggap ibu kandungnya ini, termasuk cerita tentang toko buku itu.

Hane mematut dirinya di cermin. Kemeja longgar warna peach dan celana model capri coklat tua yang dikenakannya serasi dengan kerudung serta tas dan sepatu yang berwarna senada. Sapuan bedak tipis dan lipstik transparan membuat wajahnya terlihat lebih segar. Ada kerutan di wajah tuanya. Pipinya yang mulai kendur, tak mampu menyembunyikan kehangatan sorot mata wanita ini saat Sabtu tiba. Hane akan ke toko itu lagi. Tak ada yang diharapkannya, tak pula ia menunggu Laki2 itu. Ia hanya menjemput kenangannya. 

Duduk di kedai minum di toko ini, seperti kebiasaan dulu yang sering ia lakukan bersama laki2 itu membuat Hane merasa tak sendiri. Dipilihnya kursi yang biasa mereka tempati. Pemilik kedai ini pun sepertinya sudah paham, bahwa setiap sabtu sore wanita ini pasti datang, hingga ia selalu meletakkan karton bertuliskan 'reserve' diatas mejanya.
Secangkir teh hijau dan sepotong keik labu, menemaninya menghabiskan Sabtu sore ini. Kebahagiaan terlintas diwajahnya. Kebahagiaan yang hanya dimengerti oleh hatinya. 

Sekilas ia memandang kedalam toko buku. Ada sosok yang menarik perhatiannya disana. Sepasang kekasih nampaknya. Hane hanya bisa melihat wanitanya, laki2 pasangannya membelakangi pandangan Hane. Senyum selalu tersungging diwajah wanita itu, menandakan bahwa ia sangat bahagia saat ini. Pasangan muda yang bahagia, batin Hane. Sedikit penasaran Hane terus mengikuti pasangan itu dengan pandangan matanya yang tak lagi jelas. Sampai akhirnya mereka selesai memilih buku dan bergandengan tangan menuju ke arah Hane duduk. Pasangan muda ini semakin mendekat kearah nya, nampaknya mereka juga akan duduk di gerai ini. Wanitanya cantik, berkulit putih bersih dengan rambut hitam lurus sebahu. Keramahan terpancar dari sorot matanya. Dan kekasihnya..... sejenak jantung Hane berdetak melambat. Tak salahkah pandanganku? Hane terpaku. Mata teduh itu, hidung dan wajah bulat kekanakan serta kulit coklatnya benar-benar.... tanpa sadar ia terus mengikuti pemuda itu dengan pandangannya. Mereka memilih meja tepat di hadapan Hane, dan pemuda itu menghadap kearahnya. Jantung Hane semakin berdebar hebat. Sekarang ia dapat dengan jelas melihat wajah pemuda itu. Usianya sekitar 25 tahunan. Namun garis wajah Laki2 dari masa lalunya tergambar jelas di wajah pemuda ini. Hane masih terpaku, tak pernah ia menyangka akan mengalami hal seperti ini. Bahwa ia akan melihat Laki2 itu, walaupun hanya dalam bentuk 'kemiripan' semata. Jantungnya berdegup kencang, batinnya bersuara keras. Siapa pemuda ini? Apakah kemiripan ini hanya kebetulan semata? berpuluh pertanyaan dan jawaban pun sahut menyahut di batinnya. Tiba-tiba pemuda itu melambaikan tangan kearahnya. Hane terkejut, namun secepatnya menyadari bahwa lambaian itu tentu bukan ditujukan kepadanya. Seseorang  datang dari arah belakang Hane. Rasa ingin tahu membuat wanita ini menoleh kebelakang. Dan.... jantungnya seakan berhenti berdetak. Laki2 itu juga menoleh kearahnya. Langkahnya terhenti, menatap tak percaya pada wanita yang sedang melihat kerahnya. 

****

Lama mereka terdiam, hanyut dengan alam pikiran masing-masing. Pertemuan ini sama sekali tak pernah di bayangkan oleh keduanya. Tiba-tiba mereka dipersatukan dalam pusaran yang sama. Ditempat yang sama saat mereka pertama kali bertemu. Pemuda tadi cucu dari Laki2 ini. Hari ini ia ingin memperkenalkan wanita cantik tadi kepada kakeknya sebagai calon istrinya. Tempat ini dipilih oleh Laki2 itu.  Usia mereka sudah tak muda lagi memang. Tanpa terasa, waktu telah jauh meninggalkan mereka. Rambut putih telah memenuhi kepala Laki2 tercintanya. Kerutan diwajahnya pun semakin menegaskan seberapa panjang waktu yang telah di nikmatinya. Kakinya yang sudah tak kuat lagi menopang tubuhnya, sangat bergantung pada tongkat kayu berkualitas yang selalu dibawanya. Kacamata tanpa bingkai menghiasi wajahnya. Walaupun seluruh simbol penuaan tercetak di wajah dan phisik Laki2 ini, namun Hane masih bisa merasakan kehangatan yang di alirkan laki2 ini lewat tatapannya. 


"Bagaimana hari-hari dalam hidupmu, Hane...?"
Laki2 itu memulai percakapan. Berusaha memecah pusaran badai yang mereka rasakan berdua.

"Baik..baik. Dan kau?" gugup Hane menjawab pertanyaan Laki2 ini.

"Hmmm..." 
Laki2 itu hanya bergumam. Tak mampu Hane mengartikan nya.

"Dua puluh tahunkita tak berkabar. 
Sejujurnya sejak itu seharipun aku tak mampu melupakanmu. 
Tak pernah aku bisa untuk membiarkanmu benar-benar pergi dariku.
Maafkan aku Hane, tanpa izinmu aku tetap menyimpanmu di hatiku.
Sering aku ingin kembali, tapi permintaan terakhirmu menghalangi langkahku.
Aku ingin menghormatimu, hanya itu yang bisa kulakukan."

"Apa yang kau lakukan menunjukkan bahwa
kau sangat menghargai hubungan kita. Setidaknya ini mengurangi
rasa bersalahku. Itu sudah cukup buatku.
Sekarang kita sudah tua, rasanya tak pantas lagi membicarakan hal itu.
Kau sudah bercucu, dan sebentar lagi mantu.
Selamat ya, aku senang mendengarnya. Tak pernah aku menyangka
kita akan bertemu dengan cara seperti ini."
Hane mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.

"Dan kau tentunya sudah memiliki cucu juga kan?"
Pelan laki2 itu bertanya, seakan takut melukai hati wanita ini, atau sebaliknya, takut merasakan luka dihatinya.

"InsyaAllah dalam waktu dua bulan ini. 
Do'a kan semoga berjalan lancar."

"Siapa laki2 beruntung yang menikah dengan mu, Ne?"
Ada gurat kecewa di wajah laki2 itu. Ia tak berusaha menyembunyikannya dari Hane. Suara paraunya menegaskan kecewa itu.

"Aku tak pernah menikah..., aku mengadopsi seorang anak laki2"
pelan Hane berbisik.
"Dan kau, apakah rumahtangga mu baik?"

Hane menatap laki2 itu, dan sekarang pandangan mereka bertemu.
Ada keterkejutan disana, dimata laki2 itu. Hanya sekilas, lalu berganti dengan binar yang sulit dimengerti oleh wanita ini. Ada rasa malu bergelayut dihatinya, merasa tak pantas memiliki rasa seperti ini diusia nya yang tak lagi muda. Namun ada magnet yang menarik-narik pandangannya untuk kembali menatap laki2 ini. Sekarang ia benar-benar melihat binar disana.

"Istriku sudah wafat Ne. kanker usus, sepuluh tahun yang lalu."

Dan Hane tak mampu menahan jantungnya yang berdebar keras. Tak mampu meredam agar hatinya tak memainkan alunan lagu mesra yang senantiasa mengalun lembut saat ia memikirkan laki2 ini. Tak mampu mengawal agar kalbunya tak menari. Ia merasa tak pantas, sekuat tenaga ia berusaha mencegahnya, namun ia tak mampu. Hingga akhirnya Hane menyerah, membiarkan lingkar badai yang dirasakannya membuai dan menghanyutkan mereka berdua, membawa mereka ke alam mahaindah.  Membiarkan pusaran waktu yang tiba-tiba melambat, seakan memberi kesempatan untuk ia dan laki2 itu menikmati sisa waktu yang mungkin sudah tak banyak lagi buat mereka. Segalanya indah, mungkin ini lah saatnya, setelah dua puluh tahun.