Minggu, 09 Agustus 2026

Anak ku sayang...


Anak ku sayang....
sedanga apa engkau nak? Bunda sedang mengalut rindu padamu. Jauhnya engkau dari pelukan Bunda membuat hati selalu bertanya. Maafkan Bunda jika engkau merasa terlalu di awasi.
saat sendiri seperti ini banyak hal yang ingin bunda ceritakan padamu. Hanya engkau tempat bunda berkesah. Jangan bosan anak ku, bunda berjanji akan mengganti segala perhatianmu dengan cinta yang tak berujung, tak bertepi. Sama luasnya dengan samudera yang diciptakan Allah, setara dengan tingginya langit biru yang menaungi harapan kita.

saat engkau masih kecil, bunda selalu memelukmu. Mungkin itu penyebab sampai saat ini rasanya kosong tanpa pelukanmu. Cinta bunda terhadap mu serupa embun yang turun di pagi hari, menyejukkan rumput liar yang tumbuh di halaman rumah kita. Ingatkah kau anak ku sayang, dulu... dulu sekali, kau sangat suka bergayut manja di bawah lengan bunda. Padahal bunda masih lekat dengan peluh sehabis menyelesaikan bermacam penganan yang akan kita jual esok harinya di pasar kecil di ujung kampung kita. Namun kau mendekap ku dengan penuh cinta, tak hirau atas aroma yang jelas-jelas terhirup oleh hidung mungilmu.

Anak ku sayang..
Berdua melalui pahit getirnya hidup yang telah di torehkan pada takdir kita. Sering bunda menahan tangis, saat melihat engkau berjalan disampingku, menjujung nasib di atas kepala mungil mu. Sering bunda mendecap lirih, menahan isak yang mencekat leher saat bunda melihat senyum mu menyapa segelintir orang yang menyinggahi kita, membayar seperak-dua perak atas nasib yang kita jujung bersama. Engkau putri kecilku yang tabah. Tak mengeluh, walaupun bunda tahu hatimu nestapa. Maafkan bunda, tak mampu memakaikan renda putih bersulam mawar jingga di bajumu. Maafkan bunda tak mampu melapisi kaki mu dengan sepatu berkulit lembut. Bunda mu benar-benar tak mampu untuk semua itu.

Anak ku sayang...
Luka kah engkau atas masa yang telah bunda torehkan padamu?
Tak ada kuasa bunda untuk menukar dan membalikkan waktu. Bunda ingin melakukan apapun buat mu, anak ku sayang. Namun tak ada sayap ku untuk membawamu terbang. Berkeliling mengitari dunia, agar engkau melihat betapa banyak cinta dan kasih sayang di hati bunda untukmu. Bunda hanya mampu mencipta angan untuk mu. Menggaungkan harapan di setiap langkah mu. Menggantungkan mimpi disetiap pagi mu. Bunda mu benar-benar hanya mampu untuk itu.

Anak ku sayang....
Kini engkau beranjak dewasa. Engkau tumbuh menjadi rumpun bungaku yang cantik. Pesonamu serupa pelangi, si pembuat senyum saat orang menatapnya. Santun mu tak menepi, serupa saat dulu kau menawarkan nasib yang kita jujung bersama. Engkau telaga kecilku, tempat bunda melepas dahaga setelah di kecap sengat matahari. Jangan lah engkau berganti rupa nak, jangan pula menambah rupa. Jangan gentar menghadapi nasib mu kelak. Ada atau tiada bunda disisimu, tetaplah mengayun langkah. Karena bunda tak mampu lagi bertahan disisi mu. Jangan menangis nak, jangan iringi kepergian bunda dengan isak mu. Simpanlah ia seperti bunda dulu menahan tangis saat kita berjalan berdampingan menjujung nasib. Bunda mencintaimu. Sama seperti cintamu pada bunda. Tapi waktu kita telah sampai. Bunda tak bisa mengajakmu. Perjalanan kali ini harus bunda jalani sendiri, tanpa mu anak ku. Do'a kan bunda. Hanya itu yang mampu menolong bunda saat kesulitan menerpa di tengah perjalanan nantinya. Tak perlu lagi bunda membuka mata nak, karena dari kelopak mata yang tertutup ini pun bunda mampu merasakan cinta di setiap sentuhanmu yang lembut menggenggam tanganku. Pinta bunda, kumandangkan namaNya, dekat ditelinga bunda, agar aku mampu mendengarnya dengan jelas. Agar sampai ke kalbu, mengantar pergi bunda dengan indah, tanpa rasa takut menghadapNya.



untuk engkau, Ayahku.

Lingkar Luka tak bertepi

Aku berdiri di sudut simpang jalan rumahmu, memandang ke jendela kamarmu yang tertutup. Sudah enam hari, kau tak pernah membuka jendela itu. Ada tanya besar dalam hatiku, ingin tahu apa gerangan yang terjadi. Tapi buntu otak ku memikirkan cara untuk tahu. Karena kau tak mengenal aku.

Tentang kamu, Sam.

Biasanya kau selalu terlihat di kamar itu. Duduk di bibir jendela dengan Laptop yang selalu terbuka. Diam-diam Aku mengintip mu,setelah kau memberitahukan alamat rumahmu. Kita berkenalan lewat  komunitas di salah satu jejaring sosial, aku tertarik karena tulisan-tulisan mu yang sedih. Lalu kita mulai berkomunikasi. Setiap hari tak pernah kita lewatkan tanpa sapa. Kau dan Aku, mulai merasa sesuatu yang lain selain persahabatan. Tapi tak pernah kita ungkapkan, karena kita tahu, itu tak pantas. Tak banyak yang kuketahui tentang kamu. Kata mu kau hanya tinggal seorang diri di rumah itu. Kedua orangtua mu tinggal di Volendam. Kau bercerita, Volendam salah satu kota kecil di Belanda yang terletak tepi laut yang cantik. Adik Perempuan mu sudah menikah, ikut suami ke Surabaya. Seorang tukang kebun, Pak No dan seorang pembantu, Mbok Surmin, hanya datang siang hari untuk membersihkan rumah besar itu. Kau tak banyak bercerita tentang kehidupan pribadimu. Akupun tak ingin bertanya lebih jauh. Bagiku, cukuplah kau seperti adanya saat itu.

Tentang Aku, Serena.

Usia ku tak muda lagi. Tahun ini genap empat puluh tahun. Ku ceritakan segalanya. Siapa aku dan bagaimana aku. Termasuk tentang rahasia terbesar dalam hidupku. Bahwa aku bukan perempuan baik, bahwa aku hanya tinggal sobekan lusuh, bahwa aku perempuan dengan seribu lingkar luka tak bertepi di hati. Mungkin jika ada alat yang bisa melongok ke hatiku, akan terlihat betapa banyak goresan disana. Dan aku menyembunyikan semua ini dari keluarga dan orang-orang sekitarku. Yang mereka tahu aku perempuan baik, tegar dan mandiri. Hanya kamu yang tahu sesungguhnya bagaimana aku. Entah mengapa, aku percaya padamu, menitipkan separuh hidupku . Banyak hal yang kau ajarkan padaku. Kau membuat aku mengenal satu dunia baru, dunia yang mampu mengusir sepi dan mengobati luka hidupku.

Tentang Kita.
..
Bahwa benar kita tak mampu lagi saling berdusta. Bahwa kita saling jatuh cinta. Bahwa ada aku dalam hidupmu. Namun kita sadar tak mungkin untuk bersama.  Segalanya goyah. Aku goyah, kau juga. Kita tak punya keberanian untuk lebih berani dalam melangkah. Menurut ku perbedaan usia yang sangat jauh akan membuat kita 'terlihat' aneh. Aku tak ingin menjadi sesal mu di kemudian hari. Menurut mu bukan itu, kau hanya merasa tak pantas buatku, tapi kau tak pernah menjawab tiap aku bertanya tentang apa yang 'tak pantas' itu padaku.. Kita sama-sama terluka. Luka yang menambah panjang goresan di hatiku, entah bagaimana dengan hatimu.
Lalu kau menghilang. Dengan sengaja kau hapus aku dalam setiap jalur komunikasi kita. Entah apa sebabnya, aku tak mengerti. Yang ada hanya rasa sakit dan takut. Takut kehilangan mu.

****
Sore ke tujuh, aku kembali ke simpang ini. Jendela mu masih tertutup. Rumah sunyi itu kelihatan semakin sunyi. Tiba-tiba seorang perempuan paruh baya keluar dari rumah itu. membawa sapu dan serokan sampah. Mungkin ini Mbok Surmin, bisik ku dalam hati. Aku bergegas menghampirinya

"Selamat sore bu, maaf mengganggu. Boleh saya bertanya?"
Aku menyapa perempuan itu dari balik pagar. Ia menoleh, lalu berjalan mendekati ku.

"Oh.. boleh mbak. Mau nanya apa ya mbak?"

"Benar ini rumahnya Sam?"
Perempuan itu setengah terkejut saat ku sebut nama mu.

"Benar.... mbak ini siapa ya?" perempuan itu menjawab dengan lirih. Ada keraguan di sana.

"Saya Serena, teman Sam. Sam nya ada?" Pandangan ku arahkan ke dalam rumah.
Lagi perempuan itu tersentak.

"Mbak Serena yang teman nya Fesbuk Mas Sam ya?"
Kali ini ganti aku yang terkejut. Kenapa dia bisa tahu? Pasti Sam yang bercerita.

"Mari silahkan masuk dulu mbak, saya mbok Surmin. Pembantu di rumah ini.
Ada yang mau saya sampaikan sama mbak, dari mas Sam."
Mbok Surmin, tepat dugaan ku. Pagar di buka, akupun mengikuti langkah mbok Surmin.

"Silahkan duduk mbak, saya ambil dulu titipannya." 
Rumah yang bersih, rapi namun jelas-jelas beraroma sepi yang menggigit.

"Ini mbak. Syukurlah mbak datang. Saya sudah bingung, takut tak mampu
menyampaikan amanah mas Sam. Ini pesan terakhirnya pada saya."
terkejut aku mendengarnya. Ada apa ini?

"Maksud mbok....?" kalimatku menggantung, jantung ku menerka-nerka.

"Mas Sam wafat sepuluh hari yang lalu mbak..... di Volendam."
kristal menggantung di mata tua perempuan ini.

Aku terhenyak, pusaran hitam tiba-tiba seakan mengejarku. Nafasku menderu, sesak bergemuruh di dada.
Perlahan rasa sakit menusuk jantung ku dengan membabi buta. Berdarah.
Lunglai aku pulang ke rumah, menggenggam sepucuk amplop amanah Sam pada ku.

Ku rebahkan tubuh lelah ku di ranjang, membuka amplop itu.
tulisan tangan Sam...
Serena, aku mencintai mu.

Maaf aku tak bisa bertahan lagi. Banyak yang tak kau ketahui tentang aku.
Aku tahu kau sering mengamatiku dari simpang jalan itu.
Kau cantik Serena.
Aku paling suka saat kau datang mengenakan kerudung oranye,
warna yang cocok buatmu.
Sejujurnya aku sangat menantikan kehadiran mu di simpang jalan itu, di setiap sore.
Sengaja aku berlama-lama duduk di pinggir jendela, agar kau puas memandang ku.
Nyaman rasanya menyadari kehadiran mu di sana, meski kita tak saling menyapa.
Maafkan aku tak berterus terang. Niatku baik, walau mungkin cara ku salah.

Serena...
Aku seorang lelaki cacat dengan jantung yang tak sempurna. Itu sebabnya kau selalu melihatku duduk di depan meja laptop ku kan? Karena aku tak mampu berdiri, apalagi berjalan. Cacat ini ku bawa sejak aku lahir.
Dokter bilang aku tak boleh berputus asa, namun aku tahu waktu ku tak banyak. Ini lah jawaban atas pertanyaan mu tentang  'tak pantas' nya hubungan kita.
Sampai aku mengenalmu, rasanya aku ingin hidup lebih lama. Tapi lagi-lagi aku tahu, tak mampu melawan semua sakit yang menyerangku. 
Jangan menangis Rena, aku tak ingin kau menuai luka lagi. Namun tak ada daya ku. Sengaja aku tak menghubungi, karena tak kuasa melihatmu bersedih. Tentang rahasia mu, aku lah si penyimpan abadi. Akan ku bawa bersama maut ku Rena. Jangan bersedih, kau wanita terhebat yang mencintai ku tanpa banyak tanya.
Aku merasa cukup, di akhir hidupku, menemukan cinta sebenar benarnya cinta.
Cinta kamu, terhadap aku.


Sam.

Ada selembar foto terselip, foto ku saat megintaimu di simpang jalan itu.
Kerudung oranye.

Kali ini air mata tak mampu ku hadang lagi. Tumpah ruah.
Maka disinilah aku sendiri sekarang menatap cakrawala, dan menitipkan sebuah doa yang penuh harapan untuk hari esok. Selamat jalan Sam, menarilah di langit. Karena sekarang kau tentu sudah bisa melakukan apa yang selama ini tak mampu kau lakukan.

Note : Untuk melihat karya Ramen yang lain silahkan klik di sini


Ingin bergabung dengan kami? Klik logo kami
1320907220703823535

Kakak ku Rani yang Cantik

Kakak ku Rani. Berkulit putih, rambut hitam sedikit bergelombang. Wajah oval dengan mata sayu melengkapi keelokan rupanya. Kakak ku Rani, kembang desa kami yang kesohor. Tak ada pemuda kampung kami dan kampung tetangga yang tak mengenalnya. Termasyhur, itulah predikat yang disandang kakak ku.

tapi itu dulu.. dulu sekali.

Kakak ku Rani, selalu ceria. Tak pernah raut wajahnya masam atau cemberut. Tiap kali disapa oleh orang-orang kampung, selalu ia balas dengan ramah. Dari yang iseng sampai yang pura-pura serius. Semua di tanggapi dengan baik, paling tidak dengan senyuman. Kalau sudah begitu, hati yang menyapa bisa langsung keok.

tapi itu dulu... dulu sekali

Kakak ku Rani, juara di kelas madrasah yang gurunya hanya seorang janda miskin. Ini sekolah satu-satunya di sini. Kampung kami yang  jauh dari kabupaten memang sangat terpencil. Mungkin tak sempat pemerintah memperhatikan kami, dan mungkin juga tak ada guru yang mau mengabdi di kampung ini. Terlalu jauh, terlalu sunyi, terlalu 'kampungan' dan masih banyak 'terlalu-terlalu' lainnya yang sering dijadikan alasan. Dulu pak Kades masih sering sowan ke kabupaten, berupaya mengajukan permintaan soal pendidikan . Tapi hasilnya tetap saja sama. Mungkin karena tak juga ditanggapi, akhirnya pak Kades kami yang gagah (karena hanya beliau yang memilki foto dengan seragam putih lengkap dengan atribut 'kadesnya') menyerah. Kami pun pasrah, hanya madrasah ini lah satu-satunya tempat kami menimba ilmu. Dan kakak ku Rani lah murid kebanggaan.

tapi itu dulu.. dulu sekali.

Lalu kakak ku Rani yang cantik merantau ke negeri asing. Ikut program TKI ke Arab Saudi , begitu yang kudengar.
Tiga bulan pertama kakak ku Rani masih mengirim kabar pada ibu. Bercerita bahwa ia sangat ingin pulang. Sering ku dengar ibu menangis membaca surat dari kakak ku. Tapi ibu hanya diam, tak bercerita pada ku. Mungkin ibu berfikir, tak ada gunanya bercerita pada seorang anak remaja.
Setelah tiga bulan, kakak ku Rani tak pernah lagi mengirim kabar. Entah apa dan bagaimana ia, ibu benar-benar putus asa. Tiap malam kudengar doa ibu sehabis sujudnya. Ibu ingin kakak ku Rani pulang.
Hingga akhirnya  doa ibu terkabul. Kakak ku Rani pulang. Pulang dengan kondisi yang menyedihkan.

Lalu kakak ku Rani berubah aneh. Tiap ditanya selalu jawabnya meracau. Mulanya ibu mengira kakak ku sedang sakit biasa saja. Namun lama-kelamaan ceracaunya semakin tak menentu. Lalu ibu berinisiatif untuk membawa kakak ku ke 'orang pintar'. Aku tak paham betul apa maksud orang pintar. Yang ku lihat, kakak ku di jampi dan di sembur dengan air dari mulut orang pintar tersebut. Mungkin inilah yang disebut 'pintar', aku tak begitu ambil pusing. Aku hanya ingin kakak ku Rani kembali seperti semula. Namun apa hendak di kata, semua upaya nampaknya sia-sia. Kakak ku semakin 'kacau'. Jika tak diawasi, kakak ku kabur dari rumah. Keliling kampung sambil tertawa-tawa sendiri. Rambutnya yang dulu hitam dan bersih, sekarang berubah gimbal dan kusam karena kakak ku sudah tak ingat lagi untuk mandi. Kulitnya yang bersih sekarang hitam dan kering karena kakak ku selalu berkeliaran di terik matahari sambil menari. Matanya yang dulu bersinar sayu, kini jalang dan penuh luka. Entah apa yang menimpanya, kami benar-benar tak mengerti.

Kakak ku Rani semakin brutal. Tiap kali ada yang mengejeknya, kakak ku langsung mengejar atau melempar dengan apa saja yang di dapatnya. Sudah berulang kali kami menanggung caci maki dari orang-orang di kampung yang dilukai oleh kakak ku. Ibu menangis, menangisi nasib kakak ku. Tak ada pilihan lain, ibu harus bertindak. Kakak ku Rani yang cantik terpaksa di pasung.

Kakak ku Rani terkurung dalam ruangan sunyi dan pengap. Bau dan gelap. Setiap hari kakak ku terus bernyanyi tanpa syair. Nadanya menyayat hati, tapi tak seorang pun yang tahu apa yang diucapkannya. Bahasanya aneh. Malam ini, aku berdiri dari balik jendela kecil dari luar rumah reot yang sengaja kami bangun untuk kakak ku Rani. Ku tatap kakak ku di dalam ruangannya yang pengap, gelap dan bau. Kakak ku juga sudah lupa soal kebersihan dan kesehatan, dengan se enaknya berkotoran di kamar kumuhnya. Suaranya lirih, bergumam tak jelas dengan bahasa yang aneh. Bahasa yang hanya dimengerti oleh kakak ku sendiri. Isak ku tak tertahan. Kupandang langit, maka disinilah aku sendiri sekarang menatap cakrawala, dan menitipkan sebuah doa yang penuh harapan untuk hari esok.  Doa yang kutujukan hanya untuk kakak ku Rani yang cantik, semoga besok ia tak mengamuk lagi.

Dengan Bismillah, aku memilihmu


Seribu hari . Sejak kau meninggalkan aku dalam keterpurukan, gelap dan kesedihan yang entah kenapa dengan begitu bodohnya ku pertahankan, akhirnya aku mengerti. Bahwa kau tak akan pernah kembali. Saat ini kau sudah bahagia, terbukti dengan apa yang ku lihat tadi. Kemesraan dan cinta terpancar dari matamu saat kau berbicara pada wanita itu. Kalian memang pasangan serasi, harus kuakui. Aku memang terlalu jauh berhayal, terlalu naif berfikir bahwa kau tak akan pernah menemukan wanita lain yang mencintaimu seperti cintaku padamu.Tolol. itu kata yang tepat buat aku. Ini tangisku yang terakhir buatmu, aku harus bisa melupakan mu dan semua tentang mu. Aku harus berdamai dengan hatiku, bahwa menunggumu adalah hal terbodoh yang pernah kulakukan.

......................


Sepuluh hari kemudian...

Berkenalan dengan Barga.
Lelaki tampan, berkelas dan berkecukupan. Berasal dari keluarga terpandang. Tak ada yang salah, apalagi kurang. Janji bertemu hari ini, di resto Jepang tempat favorit Barga. Restoran berkelas, yang sama sekali tak kusuka. Hampir saja kumuntahkan makanan setengah matang ini. Tapi sudahlah, aku menurut saja.

"Barga."

"Aisya."

"Maaf buat kamu menunggu. Mau pesan apa? Ini tempat favoritku, biasa kalau bawa kolega sering kesini. Yah maklumlah, aku banyak tamu dari luar. Jadi gak mungkin juga aku bawa ke warung padang."
Barga bercerita dengan sombong, menimbulkan rasa muak di dadaku. Dan waktu terasa begitu lamban berjalan. Barga menguasai pembicaraan tanpa merasa perlu mendengar pendapat ku. Bercerita atau lebih 'tepatnya' memamerkan apa yang dia miliki. Aku benar-benar penat!

Lalu Hisar..
Manager di sebuah bank ternama. Saat bertemu, Hisar lebih banyak menghabiskan waktunya dengan senyum-senyum sambil terus sibuk memainkan jemari pada handphone canggih bermerek terkenal yang mahal itu. Aku merasa tersinggung, nampaknya Hisar lebih tertarik pada dunia maya ketimbang menyapa aku yang nyata-nyata ada di depannya.

Dan Himawan,
pemuda pendiam atau lebih tepatnya sangat pendiam. Hanya menjawab jika aku bertanya, itupun menjawab dengan seperlunya tanpa menatap lawan bicara. Garing!

Kaisar, yang tanpa malu-malu mengakui kalau dirinya seorang Homo hampir membuat jantungku melompat!

Gundhi, yang tak bisa menahan nafsu makannya.

Lalu Bira, Herman dan.... masih sederet nama lainnya, aku tak ingat lagi. Semua laki-laki yang di kenalkan padaku akhirnya berlalu begitu saja, tak ada seorangpun yang tertinggal. Komentar tak sedap pun mulai bermunculan. Debby dan Nurul, dua sahabat cantik ku yang terlihat paling putus asa.

"Ais... aku pusing liat kamu. Semua tak cocok? Come on  girl, wake up!" Debby mulai kesal

"Iya Ais.. kamu mau yang tipe gimana lagi? Mau yang seperti Richard Gere ya? Ayolah non, jangan biarkan mimpi itu terus mengikutimu." Kali ini si pendiam Nurul ikut protes.

Aku hanya diam, tak mampu menjawab karena memang tak ingin menjawab. Aku bukan menolak semua lelaki itu tanpa alasan. Hanya saja ku rasa tak perlu menyampaikan penyebabnya. Cukuplah Aku saja yang tahu. Yang terpenting aku tak berputus asa. Aku hanya sedang menunggu rahasia terindah dalam hidupku. Dia, lelaki itu, pasti datang, suatu hari kelak. Aku hanya butuh waktu. Titik.

.....................

Seribu tujuh puluh  hari,

Ding. pesan masuk di handphone ku mengusik ketenangan sore. Dengan malas ku raih dan membaca pesan yang berasal dari nomor yang tak terdata di handphone ku.

'Assalamu'alaikum Aisya, saya Palwa. Maaf jika mengganggumu. Aku dapat nomor kamu dari Pram, sepupu kamu. Jika kamu berkenan aku ingin kita berteman.'

Demi nama Pram, sepupu kesayanganku yang telah tercatut, aku terpaksa membalas seperlunya.

'Dengan senang hati, kamu sudah tau nama ku kan?'
'Boleh ketemu Ais?'
'Boleh, tapi tidak dalam waktu dekat ini, aku sedikit sibuk'
'Baiklah, mungkin lain waktu. Tak keberatan jika aku mengirimi SMS kan?'
'Silahkan.'


...................

Seribu Seratus Hari,

Besok kau akan mengucapkan Akad mu buatku. Kaulah orang yang kutunggu selama ini. Rahasia indah yang selalu dinantikan setiap wanita, dan esok adalah giliranku untuk mengetahui rahasia itu. Kau tak tampan, tak pula berbadan atletis. Pekerjaanmu pun tak berada di dalam ruangan dengan dinding bercat bersih, perabotan bagus serta ruangan ber pendingin. Kau hanyalah seorang pedagang beras di pasar induk yang selalu menutup toko mu di setiap waktu sholat agar bisa berjamaah di masjid pasar. Penampilanmu hampir tak pernah rapi, namun aku tahu kau sangat menjaga kebersihannya. Dan kau, seorang duda dengan dua anak yang masih kecil, istrimu wafat setahun yang lalu. Namun aku merasa yakin untuk menghabiskan sisa umurku bersamamu dan anak-anak mu, yang kelak akan menjadi anakku. Dengan mu aku ingin mewarnai alam anganku dengan warna cinta kasih tulus yang selalu ku lihat saat kau memeluk Daffa dan Salwa, kedua buah hatimu. Sapa santunmu, perilaku serta perhatian yang selalu tepat membuat hari-hari ku bersamamu menjadi semakin bermakna. Karena kau telah memikatku dengan keindahan iman yang kau miliki.

Sejak kau menyapaku melalui pesan itu, perlahan kita mencoba untuk saling mengenal. Sapamu tak pernah berlebihan, namun telah mebuat aku merasakan sesuatu yang tak pernah kurasa sebelumnya, dan tanpa sadar aku selalu menantikanmu. Kau membuat aku mengerti sesuatu yang selama ini tak pernah kumengerti. Bahwa ketulusan dan keikhlasan jauh lebih berharga daripada cinta yang menggelora. Karena tak akan menimbulkan sakit, atau perih, atau luka.

Lalu dengan Bismillah, aku memilihmu, Palwa.