Jumat, 23 Desember 2011

Bara

Bara menghisap rokoknya dalam-dalam. Kegelisahan terpancar diwajahnya yang kuyu. Entah langkah apa yang harus diambilnya. Kesulitan yang  membelenggu, membuat dadanya sesak dan terasa ingin pecah. Rambut acak-acakan, pakaian kumal dan mata yang cekung menandakan bahwa ia benar-benar kalut saat ini. Tak ada yang bisa diharapkan untuk bisa membantu. Setidaknya Bara sudah pula berusaha meminta bantuan kepada orang-orang yang dikenalnya. Hasilnya nihil. Tak ada lagi yang mau membantu. Mereka sudah bosan dengan alasan yang selalu berbeda saat Bara meminta bantuan.


Bara merogoh kantung celananya. Cuma lima lembar uang seribuan yang kumal. Hanya cukup buat beli sebungkus nasi sayur tanpa lauk pengganjal perut malam ini. Besok entah bagaimana, Bara benar-benar putus asa. Direbahkannya tubuh kurus di dipan berkasur tipis. Rumah kumuh yang ia kontrak untuk 3 bulan ini tak berisi perabotan lain selain dipan dan kasur busuk. Matanya menerawang, menikmati kepulan asap dari sebatang rokok terakhirnya. Tak mampu lagi ia berfikir jernih. Inilah akhir dari hidupku, sungguh mengenaskan. Seperti mimpi, rasanya baru kemarin Bara menikmati masa-masa gemilang. Menghiasi hidupnya dengan berjuta kenikmatan yang manis. Pesta, minuman, klub malam, wanita panggilan kelas atas, dan obat-obatan bukan hal yang asing bagi Bara. Tak ada malam yang dilewatkannya tanpa pesta. Semua pekerja di klub malam selalu menunduk hormat tiap kali Bara hadir. Menuntunnya ke meja yang memang telah dipersiapkan, menjamu dengan minuman memabukkan berlabel nomor satu dan memanggilkan wanita-wanita sexy sesuai tipe yang disukai Bara. semua penghuni klub itu sudah hapal aturan yang ditetapkan Bara. Tak ada yang berani melanggarnya, jika masih ingin bekerja disini dan tak pulang dengan kondisi babak belur.


Tak ada yang tak mengenal Bara. Laki2 dengan perawakan tinggi, berkulit putih dan wajah rupawan ini mampu membuat begitu banyak orang takut dan tunduk padanya. Bara tak segan-segan bertindak kasar terhadap orang yang benar-benar tak ia sukai. Kekayaannya melimpah, semua dia dapat dengan jalan tak halal melalui berbagai macam bisnis ilegal yang dikuasainya. Rumah Judi, importir minuman keras berlabel luar negeri, pelacuran dan perdagangan obat2an yang belakangan semakin marak beredar. Polisi seakan sahabat karibnya, pemerintah setempat seperti kacungnya. semua tunduk dan patuh pada Bara. Mungkin ia membayar cukup mahal untuk semua itu. Ketenarannya tak diragukan lagi, tak ada yang tak mengenal Bara. Menyebut namanya saja butuh keberanian yang cukup besar bagi sebagian besar orang-orang dikota tempat Bara tinggal.
 
Semua kini hanya tinggal kenangan. Kenangan yang Bara sendiri tak bisa menyimpulkan, baik atau burukkah untuk di ingatnya. Segala kejayaan yang ia peroleh habis dalam seketika. Ada saja jalannya untuk pergi. Pada awalnya Bara sendiri tak habis pikir mengapa bisa terjadi, namun lambat laun ia mengerti, jika Tuhan menghendaki apapun, maka tak ada yang bisa menghalangi inginNya. Bara menyerah, kalah pada nasib yang melilitnya. Saat inilah yang harus ia terima. Sendiri. Tak ada lagi teman yang selalu menyanjungnya, tak ada pesuruh yang bisa diperintah dan rela melakukan apapun inginnya, tak ada wanita-wanita cantik yang menggayuti bahunya dengan manja, dan tak ada seribu kenyamanan yang direngguknya setiap malam. Yang tertinggal hanya rasa getir bercampur pahit dan malu. Harga dirinya telah tercampak, dikangkangi oleh penyakit yang kini bersarang di tubuhnya. AIDS. Dengan gagahnya penyakit ini menantang Bara, menggerogoti kekayaan dan segala yang dimilikinya. Habis tak bersisa, Bara yang dulu hanya tinggal bayangan. Berganti dengan Bara yang tipis, kumal dan miskin.

 
Nafasnya sesak, jantungnya terasa sakit. Bara mengelus dadanya yang kerontang. Tak ada lagi yang bisa dilakukannya. Tiap kali ia mengingat masa lalunya, sesuatu yang tajam mengiris ulu hatinya. Sesal melintas, tapi ia sadar tak ada gunanya. Lirih hatinya berbisik,
maka disinilah aku sendiri sekarang menatap cakrawala, dan menitipkan sebuah doa yang penuh harapan untuk hari esok.

Kamis, 22 Desember 2011

Mother's Day

Kemarin, tepat di hari ibu, saya sedang berada di sebuah kampung di kaki bukit perkebunan kelapa sawit. Awalnya saya dan teman (seorang ibu) tak menyadari kalau hari itu adalah hari ibu yang ramai di rayakan oleh anak di Indonesia. Saya sendiri sebenarnya tak pernah merayakan hari ini secara khusus. 

Saat duduk santai di tepi jalan setapak di kampung ini, ada pemandangan yang cukup menarik buat kami. Beberapa anak kecil berseragam SD pulang dari sekolahnya yang terletak di kampung seberang sekitar 3km dari sini. Ada yang sudah basah kuyub. Setelah saya tanya kenapa ia basah (sedangkan hari sangat cerah saat itu) ternyata ia mandi di sungai lengkap dengan seragam sekolah yang sedang ia pakai. Wajahnya terlihat cerah, senyum khas anak-anak (umur 7thn, laki-laki) membuat saya terpingkal-pingkal. Tak ada rasa bersalah dan takut di wajahnya. Tentu saja karena saat pulang ke rumah nanti Ibu si anak juga tak akan memarahi apa yang baru saja ia lakukan. Artinya, ini hal yang biasa dilakukan anak-anak di kampung ini. Karena jarak sekolah  yang jauh, cuaca panas seperti ini membuat anak-anak terbiasa menceburkan diri sejenak di sungai kecil yang mereka lewati.

Selang beberapa waktu kemudian, lewat pula serombongan anak perempuan. kalau yang ini saya dan sahabat miris melihat pemandangan yang 'lewat' kali ini. Anak perempuan berumur sekitar 7 sampai 10 tahunan ini menenteng sepatu mereka. Padahal jalan yang mereka lalui penuh batu dan lumpur. Belum lagi duri dari pelepah sawit yang berserakan. Mereka tak perduli, bererjalan dengan cepat bahkan sesekali melompat riang. Tak perduli dengan bahaya yang mungkin saja melukai tapak kaki mereka yang belia, asalkan sepatu sekolah yang mungkin 'cuma satu-satunya' ini tak rusak. Kami memandangnya dengan miris. Ada perbedaan yang mencolok. Di kota, Ibu-ibu membelikan sepatu buat anaknya untuk menghiasi dan melindungi kaki si anak. Namun disini lain ceritanya. Mungkin juga si Ibu terpaksa menambah panjang jam bekerjanya sebagai buruh di perkebunan sawit, agar memperoleh penghasilan lebih, demi cintanya pada si anak yang ingin bersekolah. Ibu membelikan sepatu karena patuh pada peraturan yang ditetapkan sekolah. Dengan susah payah si Ibu mengumpulkan uang agar mampu membeli sepatu sekolah buat anaknya, lalu berpesan kepada si anak agar menjaga sepatunya dengan baik. Jangan cepat rusak, karena bukanlah hal mudah baginya untuk membeli sepatu yang baru. Mengingat jauhnya jarak tempuh ber sekolah dan kondisi jalanan yang buruk apalagi saat cuaca hujan, membuat si anak memilih untuk menenteng saja sepatunya, dan membiarkan kakinya berjalan tanpa alas. Bukti kasihnya pula pada sang Ibu.

Sungguh ironis. Namun saya benar-benar tersentuh akan ikatan cinta kasih yang dibentuk oleh Ibu dan anak ini. Tanpa mereka sadari, keadaan mendidik mereka untuk saling menghargai satu sama lain. Lewat benang kesusahan dan kemiskinan, mereka merajut sehelai selimut kasih sayang yang kaya rasa. Tak putus dimakan terik, tak lekang diterpa hujan. Selamat Ibu, kau telah mengukir cinta di hati anakmu. Semoga kelak ia mengingat bentuk cinta yang kau ukir, agar dijadikannya sebagai penguat hatinya meniti hidupnya kelak.


Kasih Ibu.. kepada beta
tak terhingga sepanjang masa..
hanya memberi, tak harap kembali
bagai sang surya menyinari dunia...


#song#